KABAR EMITEN: Angin Segar Emiten Manufaktur, ADRO Pacu Premium, INDY Efisiensi Bisnis

Berita mengenai angin segar bagi emiten manufaktur dai penurunan harga gas industri, di antaranya, menjadi topik halaman market dan korporasi edisi harian Bisnis Indonesia, Rabu (5/2/2020).  
Aprianto Cahyo Nugroho
Aprianto Cahyo Nugroho - Bisnis.com 05 Februari 2020  |  08:43 WIB
KABAR EMITEN: Angin Segar Emiten Manufaktur, ADRO Pacu Premium, INDY Efisiensi Bisnis
Aktivitas karyawan di pabrik karoseri truk di kawasan industri Bukit Indah City, Purwakarta, Jawa Barat, belum lama ini. Selain kebutuhan lapangan kerja yang semakin besar, produktivitas industri manufaktur dinilai perlu lebih digenjot guna menghindari ancaman jebakan negara berpenghasilan menengah atau middle income trap. - Bisnis/NH

Bisnis.com, JAKARTA – Berita mengenai angin segar bagi emiten manufaktur dai penurunan harga gas industri, di antaranya, menjadi topik halaman market dan korporasi edisi harian Bisnis Indonesia, Rabu (5/2/2020).  

Berikut ringkasan topiknya:

Harga Gas Turun: Angin Segar Emiten Manufaktur. Emiten manufaktur yang menggunakan gas sebagai sumber energi dalam proses produksi mendapat angin segar dari sikap tegas pemerintah menurunkan harga gas industri.

Seperti diberitakan Bisnis, mulai 1 April 2020, harga gas industri dipatok maksimal US$6 per MMBtu sesuai dengan Peraturan Presiden Nomor 40 Tahun 2016. Penurunan itu akan dinikmati oleh tujuh sektor industri, yakni pupuk, petrokimia, oleochemical, baja, keramik, kaca, dan sarung tangan karet.

ADRO Pacu Premium, INDY Efisiensi Bisnis. Strategi berbeda dilakukan oleh dua emiten produsen batu bara untuk menyiasati pembatasan volume produksi domestik dan tren pelemahan harga komoditas itu secara global.

 PT Adaro Energy Tbk., misalnya, memilih untuk menggenjot produksi batu bara coking coal atau metallurgical coal. Adapun perusahaan batu bara lain, yaitu PT Indika Energy Tbk. memilih untuk melakukan efi siensi produksi guna menjaga kinerja perseroan pada 2020.

PP Properti Fokus Garap Residensial. PT PP Properti Tbk. (PPRO) menetapkan residensial berupa hunian tapak dan apartemen sebagai garapan bisnis utamanya pada masa mendatang, dengan di sisi lain menilai perkantoran sebagai lahan yang harus dijalani dengan hati-hati.

Direktur Utama PT PP Properti Taufik Hidayat menjelaskan residensial masih menjadi primadona selama beberapa tahun ke depan, begitu pula dengan apartemen baik yang disewakan maupun dijual.

Holding BUMN Karya Buntu. Pembentukan holding badan usa ha milik negara sek tor konstruksi diperkirakan buntu akibat perbedaan visi kepemimpinan menteri baru.

Seperti diketahui, pembentukan holding di beberapa sektor termasuk di bidang infrastruktur serta pengembangan perumahan dan kawasan dengan menggabungkan badan usaha milik negara (BUMN) sejenis di era Menteri BUMN Rini Soemarno lantang disuarakan. Namun, belakangan berubah di tangan Menteri Erick Thohir.

Strategi Emiten Telekomunikasi: Jurus Turunkan Beban Keuangan. Emiten-emiten sektor telekomunikasi menyiapkan sejumlah jurus untuk menurunkan beban keuangan kala kebutuhan belanja modal membengkak.

Sejumlah emiten telekomunikasi telah menyatakan komitmen untuk membelanjakan modal jumbo guna mendorong kualitas jaringan. Bisnis mencatat, PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk. menganggarkan 26%-27% dari pendapatan atau di kisaran Rp37 triliun.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
aksi emiten

Editor : Hafiyyan
KOMENTAR


Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top