Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Penurunan Harga Tembaga Pecahkan Rekor

Penurunan harga itu berulang selama 12 perdagangan secara beruntun beruntun sekaligus menjadi penurunan terparah. Sepanjang tahun berjalan, harga tembaga tertekan 8,63%.
Finna U. Ulfah
Finna U. Ulfah - Bisnis.com 31 Januari 2020  |  06:08 WIB
Tembaga. - Bloomberg
Tembaga. - Bloomberg

Bisnis.com,JAKARTA — Penurunan harga tembaga mencetak rekor terlama sepanjang sejarah yang dipicu kekhawatiran pasar terhadap memburuknya prospek pertumbuhan ekonomi China.

Bloomberg mencatat harga tembaga di Bursa London ditutup di level US$5.641 per ton, melemah 1,09% pada penutupan perdagangan Rabu (29/1). Penurunan harga itu berulang selama 12 perdagangan secara beruntun beruntun sekaligus menjadi penurunan terparah. Sepanjang tahun berjalan, harga tembaga tertekan 8,63%.

Ahli Strategi ANZ Daniel Hynes mengatakan pembatasan perjalanan di China akibat penanganan virus corona memperburuk prospek pertumbuhan ekonomi Negeri Panda. Alasannya, pembatasan mobilitas diprediksi bertahan selama dua pekan sehingga memengaruhi sektor manufaktur dan konstruksi.

Prediksi melambatnya aktivitas ekonomi di China mengacu pada pengalaman 17 tahun lalu saat virus SARS merebak.

“Dengan asumsi shut down selama dua minggu, diikuti melambatnya sektor manufaktur dan konstruksi, kami bisa melihat permintaan tembaga turun dengan tingkat yang sama dengan 2003 saat epidemi SARS,” ujarnya, seperti dikutip dari Bloomberg, Kamis (30/1).

Sebelumnya, BNP Paribas memperkirakan pertumbuhan ekonomi China berada di bawah 5% pada kuartal I/2020. Sementara itu, JPMorgan Chase & Co. merevisi turun pertumbuhan ekonomi China pada kuartal I/2020 menjadi 5,6% dari 6%.

Pabrik-pabrik di China telah memperpanjang hari liburnya, maskapai global memotong penerbangan, dan sejumlah peritel menutup tokonya di China untuk membantu menekan penyebaran wabah. Melambatnya sektor manufaktur pun bakal menggerus permintaan tembaga China yang dikenal sebagai konsumen tembaga terbesar dunia seperti yang terjadi ketika virus SARS merebak.

Pada 2003, ekonomi China tertekan sehingga menghilangkan permintaan tembaga global hingga 100.000 ton. Koordinator Pasar Cochiloco Victor Garay mengatakan sebelumnya pasar sangat optimistis bahwa harga tembaga akan membaik dari kondisi 2019.

Pada kuartal I/2020, dia menilai sulit untuk menghitung dampak penyebaran virus itu terhadap komoditas tembaga. Alasannya, kondisi pasar diwarnai ketidakpastian sehingga sulit untuk menerawang arah pergerakan harga tembaga berikutnya.

“Kami masih dalam fase menerka seberapa besar dampaknya terhadap tembaga,” katanya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

komoditas tembaga

Sumber : Bisnis Indonesia

Editor : M. Taufikul Basari
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top