Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Bursa Asia Masih Terpukul Kekhawatiran Virus Corona

Bursa saham Asia terpukul pada Selasa (28/1/2020) karena korban jiwa akibat virus corona di China melonjak dan meningkatkan kekhawatiran investor atas dampaknya terhadap ekonomi.
Aprianto Cahyo Nugroho
Aprianto Cahyo Nugroho - Bisnis.com 28 Januari 2020  |  16:04 WIB
bursa asia
bursa asia

Bisnis.com, JAKARTA – Bursa saham Asia terpukul pada Selasa (28/1/2020) karena korban jiwa akibat virus corona di China melonjak dan meningkatkan kekhawatiran investor atas dampaknya terhadap ekonomi.

China memperpanjang liburan Tahun Baru Imlek hingga 2 Februari secara nasional, dan 9 Februari untuk Shanghai. Kota produsen baja terbesar di China di provinsi Hebei utara, Tangshan, menangguhkan semua transportasi dalam upaya mencegah penyebaran virus.

Saham Asia juga memangkas beberapa pelemahan awal pada hari Selasa tetapi masih jauh di bawah zona merah.

Indeks MSCI Asia Pacific di luar Jepang merosot 0,8 persen. Indeks Topix dan Nikkei 225 Jepang ditutup melemah masing-masing 0,55 persen dan 0,6 persen. Sementara itu, indeks S&P/ASX 200 Australia berakhir turun 1,36 persen dan indeks Kospi Korea Selatan tergelincir 3,09 persen.

"Kekhawatirannya bukan dari tingkat kematian, tetapi seberapa menular virus Wuhan (corona) tersebut," tulis ekonom Citi dalam sebuah catatan, seperti dikutip Reuters.

"Dampak ekonomi akan tergantung pada seberapa sukses wabah ini dapat dibendung," lanjutnya.

Pihak berwenang China juga mungkin memiliki ruang terbatas untuk merangsang ekonomi, dibandingkan saat wabah SARS terjadi tahun 2002-2003 silam.

"Dampak pada ekonomi China mungkin lebih sulit untuk dikelola daripada yang terjadi setelah epidemi SARS pada 2003 di mana China mengadopsi kebijakan fiskal ekspansif termasuk pemotongan pajak untuk membantu upaya pemulihan," kata Matthew Sherwood, kepala analis investasi di Perpetual.

Banyak investor masih mencoba untuk mencari tahu dampak potensial dari virus corona, meskipun sektor perjalanan dan pariwisata diperkirakan menanggung beban dampak terbesar.

"Bagaimana kita sepenuhnya menilai risiko, jika kita memiliki visibilitas terbatas pada seberapa buruk wabah ini bisa terjadi? Bukan hanya dalam hal penularan, tetapi dampaknya pada ekonomi," kata Chris Weston, analis di broker Pepperstone.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Bursa Asia
Editor : Mia Chitra Dinisari

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top