IHSG Ditutup Melemah Pascarilis Data Neraca Perdagangan, TLKM dan HMSP Penekan Utama

Berdasarkan data Bloomberg, IHSG ditutup melemah 0,66 persen atau 42,04 poin ke level 6.283,36 dari level penutupan sebelumnya.
Aprianto Cahyo Nugroho
Aprianto Cahyo Nugroho - Bisnis.com 15 Januari 2020  |  16:29 WIB
IHSG Ditutup Melemah Pascarilis Data Neraca Perdagangan, TLKM dan HMSP Penekan Utama
Siluet karyawan di dekat layar monitor pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Kamis (13/6/2019). - Bisnis/Nurul Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA –Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah pada akhir perdagangan hari ini, Rabu (15/1/2020).

Berdasarkan data Bloomberg, IHSG ditutup melemah 0,66 persen atau 42,04 poin ke level 6.283,36 dari level penutupan sebelumnya.

Pada perdagangan Selasa (14/1/2020), IHSG mampu menutup pergerakannya di level 6.325,41 dengan penguatan 0,46 persen atau 28,84 poin.

Sebelum berbalik ke zona merah dan melemah, indeks sempat memperpanjang penguatannya hingga mendekati level 6.350 setelah dibuka naik tipis 0,01 persen atau 0,76 poin di posisi 6.326,817 pada Rabu (15/1/2020) pagi.

Sepanjang perdagangan hari ini, IHSG bergerak fluktuatif pada kisaran 6.257,50-6.348,53.

Tujuh dari sembilan sektor menetap di zona merah, didorong oleh sektor pertanian yang merosot 2,94 persen dan tambang yan gmelemah 1,78 persen. Adapun sektor industri dasar dan aneka industri mampu menguat masing-masing 1,02 persen dan 0,06 persen.

Dari 675 saham yang diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia, sebanyak 120 saham menguat, 284 saham melemah, dan 271 saham stagnan dari total 675 saham.

Saham PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) dan PT HM Sampoerna Tbk. (HMSP) yang masing-masing turun 1,77 persen dan 1,73 persen menjadi penekan utama pelemahan IHSG hari ini.

Pelemahan IHSG hari ini sejalan dengan rilis data neraca perdagangan yang defisit. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat kinerja neraca perdagangan Desember 2019 mengalami defisit tipis US$28,2 juta.

Kepala BPS Suhariyanto mengatakan, defisit tersebut terjadi seiring dengan nilai impor Desember 2019 yang mencapai US$14,50 miliar dibandingkan dengan kinerja nilai ekspor Desember 2019 yang mencapai US$14,47 miliar.

"Defisit Desember ini tipis jauh dibandingkan dengan defisit November 2019," katanya saat jumpa pers. Adapun kinerja neraca perdagangan November 2019 tercatat mengalami defisit sebesar US$1,33 miliar.

Sejumlah ekonom sebelumnya memperkirakan neraca perdagangan Desember 2019 mencatatkan defisit hingga US$970 juta yang salah satunya dipicu oleh meningkatnya impor barang konsumsi seiring dengan perayaan Natal dan Tahun Baru.

Indeks saham lainnya di Asia mayoritas juga melemah pada perdagangan hari ini. Indeks Topix dan Nikkei 225 Jepang melemah masing-masing 0,54 persen dan 0,45 persen.

Di China, indeks Shanghai Composite dan CSI 300 melemah 0,54 persen dan 0,55 persen, sedangkan indeks Hang Seng turun 0,39 persen. Indeks Kospi melemah 0,35 persen.

Dilansir dari Reuters, bursa saham Asia tergelincir karena investor menunggu penandatanganan kesepakatan perdagangan AS-China, dengan sentimen terbebani oleh komentar dari Menteri Keuangan AS bahwa tarif akan tetap berlaku untuk saat ini.

Menteri Keuangan AS Steven Mnuchin mengatakan pada Selasa malam bahwa AS akan tetap menerapkan tarif atas barang-barang impor asal China sampai penyelesaian tahap kedua dari perjanjian perdagangan AS-China, yang memicu beberapa aksi ambil untung aset berisiko.

Berita tersebut muncul beberapa jam sebelum penandatanganan perjanjian perdagangan fase pertama yang akan meredakan perang dagang yang telah berlangsung hingga 18 bulan antara dua ekonomi terbesar dunia tersebut.

"Kita seharusnya tidak mengharapkan keringanan tarif lebih lanjut sampai setelah pemilihan presiden November,” kata Tapas Strickland, direktur ekonomi di National Australia Bank, seperti dikutip Reuters.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Indeks BEI, china

Editor : Nancy Junita
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top