Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Regulasi Market Maker Ditargetkan Rampung Semester II/2020

Bursa Efek Indonesia bersama dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sedang menggodok regulasi terkait market maker. Diharapkan peraturan itu akan diluncurkan awal semester II/2020.
Hafiyyan
Hafiyyan - Bisnis.com 10 Januari 2020  |  20:20 WIB

Bisnis.com, JAKARTA—Bursa Efek Indonesia bersama dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sedang menggodok regulasi terkait market maker. Diharapkan peraturan itu akan diluncurkan awal semester II/2020.

“Akhir 2019 sudah bahas serius dengan OJK, paling cepat bisa keluar semester II/2020. Harapannya likuiditas di pasar akan semakin meningkat,” ujar Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa BEI Laksono Widodo, Jumat (10/1/2020).

Menurutnya, regulasi market akan menjadi salah satu poin yang diatur dalam revisi Peraturan Nomor II-A tentang Perdagangan Efek Bersifat Ekuitas.

Laksono menjelaskan dengan adanya regulasi market maker, BEI dapat mempublikasikan saham-saham kelas menengah dengan fundamental yang bagus, tetapi kurang likuid dipasar. Nantinya, Anggota Bursa (AB) atau broker dapat menjadi market maker yang membuat saham-saham bagus tersebut lebih likuid.

“Jadi tidak semua saham. Kami yang menentukan kriterianya. Jumlahnya ada 20—40 saham yang dianggap kurang likuid. Saham-saham itu kita tawarkan ke broker, untuk menjadi market maker,” paparnya.

Market maker adalah pihak yang ditunjuk oleh Bursa untuk selalu menyediakan kuotasi bid and offer dalam jumlah yang memadai.

Dalam pelaksanaan dan pengembangannya, Bursa akan terus mengkaji aturan mengenai market maker. Tujuannya agar meningkatkan likuiditas dan kualitas perdagangan, yang pada akhirnya dapat meningkatkan jumlah investor di pasar modal.

Menurutnya, adanya market maker akan meningkatkan likuditas pasar modal Indonesia. Pada 2020, BEI menargetkan Rata-rata Nilai Transaksi Harian (RNTH) mencapai Rp9,5 triliun dari 2019 sebesar Rp9,1 triliun.

Praktik market maker yang sesuai ketentuan sebetulnya sudah dilakukan di banyak negara, sehingga tidak sulit mencari referensinya. Prinsipnya sama seperti waran terstruktur yang memiliki liquidity provider.

Adapun, produk waran terstruktur akan dirilis dalam 1—2 bulan ke depan. Nantinya produk itu memiliki payung hukum berupa peraturan OJK.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bursa efek indonesia market
Editor : Rustam Agus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top