Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Iran Serang Amerika, Ini Kata Analis Dampaknya Pada Pasar

Sejumlah analis memperingatkan dampak memburuknya situasi di Timur Tengah terhadap pasar pascaserangan rudal oleh Iran ke pangkalan udara gabungan Amerika Serikat-Irak.
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 08 Januari 2020  |  10:47 WIB
Bendera Iran- AS -
Bendera Iran- AS -

Bisnis.com, JAKARTA – Sejumlah analis memperingatkan dampak memburuknya situasi di Timur Tengah terhadap pasar pascaserangan rudal oleh Iran ke pangkalan udara gabungan Amerika Serikat-Irak.

Setelah Iran menembakkan rudalnya pada Rabu pagi (8/1/2020) waktu Baghdad, pasar finansial global seketika terjungkal ke zona merah, reaksi serupa yang dialami ketika AS melancarkan serangan udara di Irak pada Jumat (3/1/2020) yang menewaskan Jenderal Iran Qasem Soleimani.

Padahal, mayoritas bursa saham dunia mampu rebound pada perdagangan Senin (6/1/2020) saat investor mengesampingkan ancaman Iran untuk membalas kematian Soleimani terhadap AS.

"Pasar tidak memperhitungkan peluang terjadinya konflik besar yang cukup tinggi ketika serangan udara AS terjadi [pekan lalu]," tutur Max Gokhman, kepala alokasi aset untuk Pacific Life Fund Advisors.

“Sekarang semakin jelas jika situasinya tidak akan mereda dan rasa khawatir kini menghilangkan harapan di benak para investor,” tambahnya, dilansir dari Bloomberg.

Senada dengan Gokhman, kepala investasi di Leuthold Group Doug Ramsey berpendapat pasar tidak dalam kondisi siap untuk menerima kabar buruk apa pun.

“Pasar bereaksi negatif terhadap berita apa pun yang lebih buruk mengenai ekonomi, perang perdagangan, dan bahkan ketegangan geopolitik,” terang Ramsey.

Seiring dengan tumbangnya daya tarik saham sebagai aset berisiko, minat investor untuk aset investasi aman (safe haven) seperti emas dan yen Jepang pun menanjak manakala terjadi keresahan geopolitik.

“Iran telah menggantikan perang dagang [AS-China] sebagai risiko terbesar untuk pasar, tahun 2020 telah diisi dengan eskalasi ketegangan Timur Tengah dan investor akan memposisikan ulang portofolio mereka,” ujar Shane Oliver, kepala strategi investasi di AMP Capital.

Nilai tukar yen Jepang, katanya, bisa menguat hingga level 105 yen per dolar AS, meskipun akan membutuhkan intensifikasi situasi yang serius untuk menguji level tersebut.

Menyusul serangan Iran, indeks futures S&P 500 turun tajam lebih dari 1 persen bersama Nasdaq 100 dan Dow Jones. Meski demikian, LGT Bank Asia tetap mengutarakan optimismenya terhadap pasar saham AS.

"Saya masih akan membeli saham-saham AS,” ungkap Stefan Hofer, kepala strategi investasi di LGT Bank Asia.

Laporan pasar tenaga kerja AS yang akan dirilis akhir pekan ini diperkirakan akan menunjukkan hasil yang cukup baik. Sementara itu, pertumbuhan upah tampak kuat dan kinerja keuangan perusahaan diyakini akan membaik hingga kuartal pertama.

"Jika kita bisa mengesampingkan seluruh masalah risiko politik, pada akhirnya akan berpegang pada fundamental-fundamental AS,” jelas Hofer.

Mitul Kotecha, ahli strategi emerging market di TD Securities, berpandangan bahwa segalanya kini akan sangat bergantung pada reaksi AS dan apakah akan ada eskalasi lebih lanjut.

“Serangan rudal itu kemungkinan akan mendukung pasar obligasi, terutama Treasury AS. Mata uang Asia akan menghadapi beberapa tekanan, dengan rupee di antara yang lebih rentan karena India mengimpor minyak dan kenaikan harga bahan energi,” papar Kotecha.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

iran as vs iran bursa saham
Editor : Mia Chitra Dinisari
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top