Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Harga CPO Terseret Melemahnya Minyak Mentah

Berdasarkan data Bloomberg, harga CPO kontrak Januari 2020 di Bursa Derivatif Malaysia menyudahi perdagangan dengan minus 0,73% atau 19,00 poin ke level 2.585 ringgit per ton.
Dika Irawan
Dika Irawan - Bisnis.com 13 November 2019  |  18:19 WIB
Tandan buah segar - Bisnis.com
Tandan buah segar - Bisnis.com

Bisnis.com, JAKARTA – Harga minyak kelapa sawit mentah (crude palm oil) memerah pada Rabu (13/11/2019), setelah melaju mendekati level tertinggi 2 tahun, karena penurunan harga aminyak mentah dan minyak kedelai.

Akibat sentimen tersebut, para investor memilih untuk melakukan aksi ambil untung dari reli harga baru-baru ini.

Berdasarkan data Bloomberg, harga CPO kontrak Januari 2020 di Bursa Derivatif Malaysia menyudahi perdagangan dengan minus 0,73% atau 19,00 poin ke level 2.585 ringgit per ton, meneruskan pelemahan di sesi pembuka, 0,08% atau 2,00 poin ke level 2.602 ringgit per ton.

Dilansir dari Bloomberg, harga minyak jatuh untuk hari ketiga karena Presiden AS Donald Trump gagal memberikan perincian baru tentang negosiasi perdagangan dengan China, mengecewakan para investor yang berharap untuk beberapa kemajuan menuju kesepakatan parsial.

Minyak mentah yang lebih murah ini membuat kelapa sawit kurang menarik untuk dicampur menjadi biofuel.

Data Bloomberg menunjukkan, hingga pukul 17:57 WIB, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) jatuh 0,77% atau 0,44 poin menjadi US$56,36 per barel. Harga minyak mentah Brent merosot 1,14% atau 0,71 poin ke level US$61,35 per barel.

Pasar pun masih berisiko untuk mundur lebih lanjut. Sebab premi sawit atas gasoil, tertinggi dalam sekitar 20 bulan, menghalangi penggunaan sawit dalam biofuel.

Ditambah, indeks kekuatan relatif 14 hari pada kontrak paling aktif telah di atas 70 selama sekitar 3 minggu, level teknis yang menunjukkan harga telah naik terlalu jauh dan terlalu cepat.

Laju Ekspor Malaysia

Anilkumar Bagani, Kepala Penelitian dari Sunvin Group mengatakan, ada juga kekhawatiran bahwa laju ekspor dari Malaysia, produsen terbesar kedua di dunia, mungkin tidak tetap positif bulan ini.

“Mungkin ada penurunan 3% hingga 5% untuk keseluruhan November,” katanya.

Setelah jatuh ke level terendah empat tahun pada Juli, sawit berjangka melesat bulan lalu untuk memasuki pasar bullish. Harga ditopang oleh stok yang lebih rendah, ekspor yang kuat, dan produksi lebih lemah.

Pemantau kargo independen SGS Malaysia Sdn. melaporkan, ekspor sawit Malaysia ke Uni Eropa pada 1-10 November mencapai 93.810 ton atau naik 78,2% secara bulanan. Sementara ekspor ke China meningkat 27,1% menjadi 89.170 ton. Adapun ekspor ke seluruh kawasan Asia Tenggara mencapai 52.700 ton atau meningkat 60,7%.

Dalam perkembangan lain, harga kompetitor sawit, yaitu minyak kedelai kontrak Desember 2019 di Chicago Board of Trade (CBOT) stabil di level US$31,42 per pon. Kenaikan atau penurunan harga minyak kedelai tak jarang mempengaruhi harga saingannya, yaitu minyak sawit. Sebab kedua minyak itu berkompetisi di pasar minyak nabati dunia.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

komoditas harga cpo
Editor : Ana Noviani
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top