Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Trump Membuat Investor Resah, Pasar Saham Global Tertekan

Pasar saham global serentak melemah pada perdagangan sore ini, Rabu (13/11/2019), saat investor mencermati komentar terbaru Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengenai perdagangan dan gejolak di Hong Kong.
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 13 November 2019  |  15:55 WIB
Presiden Amerika Serikat Donald Trump - Reuters
Presiden Amerika Serikat Donald Trump - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA – Pasar saham global serentak melemah pada perdagangan sore ini, Rabu (13/11/2019), saat investor mencermati komentar terbaru Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengenai perdagangan dan gejolak di Hong Kong.

Berdasarkan data Bloomberg, indeks Stoxx Europe 600 turun 0,2 persen pada pukul 08.06 pagi waktu London (pukul 15.06 WIB), sedangkan indeks FTSE 100 Inggris melemah 0,4 persen.

Pada saat yang sama, indeks Futures S&P 500 turun 0,2 persen, indeks MSCI All Country World terkoreksi 0,2 persen, dan indeks MSCI Emerging Market merosot 0,8 persen. Di Asia, indeks bursa saham Hong Kong turun tajam seiring dengan berlanjutnya kerusuhan di kota ini.

Dilansir dari Bloomberg, saham bank menjadi pendorong penurunan indeks Stoxx Europe 600 setelah ABN Amro Bank NV merilis laporan kinerja keuangan yang mengecewakan.

Sementara itu, indeks futures S&P 500 tergelincir meskipun indeks saham acuannya mampu berakhir naik tipis pada perdagangan Selasa (12/11/2019) setelah Presiden Trump menyampaikan komentarnya soal kesepakatan perdagangan dengan China.

Trump mengatakan tim perunding AS dan China hampir mencapai kesepakatan perdagangan "fase satu". Namun pada saat yang sama, Trump juga menegaskan retorika tentang "kecurangan" China mengenai perdagangan.

Ia menyatakan bahwa pemerintah akan menaikkan tarif terhadap China secara substansial jika kesepakatan dagang tidak tercapai.

“Jika kami tidak membuat kesepakatan, kami akan secara substansial menaikkan tarif. Tarif itu akan dinaikkan dengan sangat substansial dan ini akan berlaku untuk negara-negara lain yang juga memperlakukan kami dengan tidak adil,” tegas Trump.

Ketika bank-bank sentral utama tampak mengambil sikap bertahan dan musim rilis laporan kinerja keuangan korporasi mereda, fokus investor telah beralih pada isu perdagangan dan kesepakatan “fase satu” antara dua negara berekonomi terbesar di dunia itu.

Kedua belah pihak telah berencana untuk menandatangani "fase satu" kesepakatan dalam konferensi internasional di Chile pada November yang kemudian dibatalkan karena kerusuhan sosial di negara itu. Namun, sejauh ini, lokasi baru untuk penandatanganan itu belum juga diumumkan.

"Saya benar-benar khawatir. Waktu terus berjalan. Pasar kini mengharapkan kemajuan substansial pada pekan depan atau setelahnya, dan jika tidak, maka kepercayaan bisa runtuh. Ada interprestasi berbeda dari komentar Trump,” ujar Michael McCarthy, kepala strategi pasar di CMC Markets, Sydney, dikutip dari Reuters.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bursa saham Donald Trump
Editor : Saeno
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top