Sriwijaya Air Minta Audit Hasil Kerja Sama Manajemen dengan Garuda (GIAA)

Yusril Ihza Mahendra, Kuasa Hukum dan salah satu pemegang saham Sriwijaya Air mengatakan bahwa pihaknya memiliki keraguan atas pengelolaan manajemen selama diambil oleh Garuda Indonesia Grup sejak November 2018.
Muhammad Ridwan
Muhammad Ridwan - Bisnis.com 10 November 2019  |  17:09 WIB
Sriwijaya Air Minta Audit Hasil Kerja Sama Manajemen dengan Garuda (GIAA)
Pesawat Sriwijaya Air, berada di kawasan Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Bali, Jumat (8/3/2019). - ANTARA/Fikri Yusuf

Bisnis.com, JAKARTA – PT Sriwijaya Air meminta audit atas hasil selama kerja sama manajemen dengan PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. yang telah berlangsung hampir satu tahun tersebut.

Yusril Ihza Mahendra, Kuasa Hukum dan salah satu pemegang saham Sriwijaya Air mengatakan bahwa pihaknya memiliki keraguan atas pengelolaan manajemen selama diambil oleh Garuda Indonesia Grup sejak November 2018.

Selain itu, Yusril meragukan pembayaran utang Sriwijaya Air selama manajemen diambil alih Garuda Indonesia Group.

“Garuda juga bilang selama mereka manage, utang Sriwijaya berkurang 18 persen. Kami juga tidak percaya, audit saja,” ujarnya kepada Bisnis, Jumat (8/11/2019).

Tidak hanya sampai di situ, sebelumnya pihak emiten berkode saham GIAA tersebut mengklaim bahwa selama operasional dijalankan oleh Garuda Indonesia Grup mampu membuat kinerja Sriwijaya moncer. Setelah merugi hingga Rp1,6 triliun pada 2018, laporan keuangan maskapai diklaim berubah positif pada kuartal I/2019 seiring dengan perbaikan manajemen dan strategi perusahaan.

Yusril mengatakan bahwa pihaknya meragukan capaian kinerja tersebut. Pasalnya, selama kerja sama manajemen berlangsung, pihaknya menganggap kerjasama dengan Garuda Group selama ini merugikan kepentingan Sriwijaya karena terlalu banyak konflik kepentingan antara anak-anak perusahaan Garuda Indonesia dengan Sriwijaya.

Dia menambahkan bahwa performa Sriwijaya tidak bertambah baik di bawah manajemen yang diambil alih oleh Garuda Indonesia Grup melalui Citilink. Yusril menilai, perseroan malah dikelola tidak efisien dan terjadi pemborosan yang tidak perlu.

“Kami tidak percaya [jadi lebih baik saat KSM]. Makanya Pak Luhut [Menko Maritim dan Investasi] minta BPKP dan auditor independen untuk audit benar apa tidak,” jelasnya.

Sebelumnya, kisruh kerja sama manajemen antara Garuda dan Sriwijaya dikabarkan kembali pecah pada Kamis (7/11/2019) melalui keterangan dari Direktur Perawatan dan Servis Garuda Indonesia Iwan Joeniarto mengatakan kondisi tersebut terjadi karena kondisi dan hal tertentu yang membuat kedua pihak tidak mencapai kesepakatan.

Garuda Indonesia Group menegaskan Sriwijaya Air Group sudah bukan menjadi bagian dalam kerja sama operasi yang dijalin antara Citilink Indonesia dan Sriwijaya Air.

Namun, VP Corporate Secretary Garuda Indonesia Ikhsan Rosan mengklarifikasi informasi yang beredar di publik perihal penjelasan Direktur Teknik dan Layanan Garuda Indonesia Iwan Joeniarto. Penjelasan tersebut ditujukan kepada perusahaan penyewaan pesawat (lessor) atas pertanyaan mereka tentang posisi Garuda Indonesia atas Sriwijaya Air.

Saat ini, hubungan keduanya adalah sebatas pada business to business dan tanggung jawab Sriwijaya kepada lessor menjadi tanggung jawab maskapai milik keluarga Chandra Lie sendiri.

Selain itu, Ikhsan menjelaskan bahwa pihak Garuda Indonesia meminta iktikad baik Sriwijaya Air Group terkait dengan penyelesaian kewajiban dan utang kepada sejumlah perusahaan negara.

Dia mengatakan awal masuknya GIAA dalam kerja sama operasi adalah dalam rangka mengamankan aset dan piutang negara pada Sriwijaya Air Group. Sriwijaya Air Group membawahi maskapai Sriwijaya Air dan NAM Air.

“Kami saat ini sedang berdiskusi dan bernegosiasi dengan pemegang saham Sriwijaya perihal penyelesaian kewajiban dan utang-utang mereka kepada institusi negara seperti BNI, Pertamina, GMF, Gapura Angkasa dan lainnya,” katanya dalam siaran pers, Kamis (7/11).

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
sriwijaya air, garuda indonesia

Editor : M. Taufikul Basari
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top