Harapan Kesepakatan Dagang Meningkat, Bursa Asia Menguat

Indeks MSCI Asia Pacific di luar Jepang menguat 1,3 persen pada hari Jumat sore di Asia. Sementara itu, indeks Topix dan Nikkei 225 Jepang menguat masing-masing 0,88 persen dan 1,15 persen.
Aprianto Cahyo Nugroho
Aprianto Cahyo Nugroho - Bisnis.com 11 Oktober 2019  |  16:10 WIB
Harapan Kesepakatan Dagang Meningkat, Bursa Asia Menguat
Seorang pria melihat papan elektronik yang menunjukkan rata-rata indeks Nikkei Jepang di Tokyo, Jepang, 13 November 2018. - REUTERS/Toru Hanai

Bisnis.com, JAKARTA – Bursa saham Asia melonjak pada hari Jumat (11/10/2019) setelah meningkatnya harapan kesepakatan perdagangan karena Presiden AS Donald Trump mengatakan dia akan bertemu dengan juru runding perdagangan utama China.

Indeks MSCI Asia Pacific di luar Jepang menguat 1,3 persen pada hari Jumat sore di Asia. Sementara itu, indeks Topix dan Nikkei 225 Jepang menguat masing-masing 0,88 persen dan 1,15 persen.

Di China, indeks Shanghai Composite dan CSI 300 menguat 0,88 persen dan 0,96 persen, sedangkan indeks Hang Seng Hong Kong menguat 2,34 persen.

Dilansir dari Reuters, suasana pasar yang bullish datang setelah Donald Trump menyebut hari pertama pembicaraan perdagangan antara AS dan negosiator Chine, telah berjalan dengan sangat baik.

Seorang pejabat Gedung Putih mengatakan pembicaraan "mungkin lebih baik dari yang diharapkan" dan seorang pejabat Kamar Dagang AS yang diberi pengarahan oleh kedua belah pihak meningkatkan kemungkinan kesepakatan mengenai mata uang pekan ini.

“Meskipun optimisme seputar pembicaraan perdagangan membantu mendorong minat terhadap aset berisiko, kurangnya antusiasme terhadap kesepakatan mencerminkan kehati-hatian investor yang lebih luas,” kata Matt Simpson, analis pasar senior di GAIN Capital, seperti dikutip Reuters.

Perkembangan positif lebih lanjut dalam pembicaraan perdagangan dapat mendorong pasar pada hari Senin, tetapi ekspektasi yang rendah untuk kesepakatan berarti bahwa kurangnya kesepakatan tidak akan "menjadi akhir dari selera risiko," tambahnya.

Analis di National Australia Bank mengatakan penundaan kenaikan tarif saat ini tidak akan mungkin membalikkan perlambatan pertumbuhan ekonomi yang didorong oleh perdagangan.

"Ketidakpastian seputar masalah struktural yang belum terselesaikan seperti pencurian kekayaan intelektual dan subsidi untuk perusahaan milik negara kemungkinan akan tetap menjadi pencegah untuk kenaikan dalam pengeluaran modal yang sangat dibutuhkan. Mengenai hal ini rincian skor pada pakta mata uang potensial akan menjadi penting," ungkap mereka.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Bursa Asia

Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top