Indonesian Tobacco (ITIC) Kejar Target Laba Rp12 Miliar

Emiten bersandi saham ITIC ini, mengantongi penjualan sebesar Rp20,19 miliar atau tumbuh 20,19% secara tahunan.
Azizah Nur Alfi
Azizah Nur Alfi - Bisnis.com 30 September 2019  |  16:09 WIB
Indonesian Tobacco (ITIC) Kejar Target Laba Rp12 Miliar
Petani memotong daun muda tembakau di Getasan, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, Senin (24/7). - ANTARA/Aditya Pradana Putra

Bisnis.com, JAKARTA - PT Indonesian Tobacco Tbk. mengantongi laba bersih sebesar Rp1,08 miliar pada semester I/2019. Perolehan laba pada paruh pertama tahun ini, jauh dari target laba sepanjang tahun sebesar Rp12 miliar.

Direktur Utama Indonesian Tobacco Djonny Saksono mengatakan perseroan tidak akan mengoreksi target laba tahun ini, meski pencapaian di semester I/2019 baru 9% dari target sepanjang tahun. Produsen tembakau iris ini, optimistis dapat mencapai target laba seiring dengan kenaikan penjualan.

"Target laba tetap di angka tersebut," katanya pada Senin (30/9/2019).

Sebagai informasi, emiten bersandi saham ITIC ini, mengantongi penjualan sebesar Rp20,19 miliar atau tumbuh 20,19% secara tahunan. Papua memberikan kontribusi 70,12% terhadap penjualan, diikuti Kalimantan 14,22%, dan Nusa Tenggara 13,77%.

Adapun, lainnya berasal dari Sulawesi, Jawa, Sumatra, Singapura, dan Malaysia. Meski penjualan mencatatkan pertumbuhan, tetapi laba bersih perseroan turun 65,93% menjadi Rp1,08 miliar.

Djonny menjelaskan penjualan dan laba semestinya meningkat cukup baik. Hanya saja, laba perseroan tertekan oleh beban keuangan yang meningkat 91,49% menjadi Rp11,70 miliar.

Kenaikan beban keuangan ini karena perseroan harus membayarkan denda pembatalan perjanjian kredit dengan Bank Mestika Dharma. Denda tersebut senilai total Rp4,1 miliar.

"Pada Februari 2019, kami pindah dari Bank Mestika Dharma ke Bank Woori Saudara, karena kami mendapatkan plafon yang lebih tinggi serta bunga yang lebih murah. Di situ ada denda-denda pembatalan perjanjian kredit dengan Bank Mestika yang one time charge. Tanpa beban one time charge, performance perseroan sangat bagus," katanya.

Lebih lanjut, ITIC bersiap menaikkan harga produk pada tahun depan sekitar 10%. Ini seiring dengan kenaikan produk rokok lainnya akibat kenaikan cukai rokok sekitar rata-rata 23%.

"Sudah pasti [kenaikan harganya] bisa 10%, karena harga-harga rokok bakal naik minimal 35%," imbuhnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
emiten rokok, kinerja emiten

Editor : Ana Noviani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top