Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Harga Gas Alam Berjangka Stabil

Harga gas alam berjangka stagnan pada perdagangan Jumat (20/9/2019), karena proyeksi permintaan tidak mengalami perubahan.
Dika Irawan
Dika Irawan - Bisnis.com 21 September 2019  |  17:31 WIB
Kapal tanker Liquefied Natural Gas (LNG) terlihat menuju pembangkit listrik di Futtsu, Tokyo, Jepang, Senin (13/11/2017). - Reuters/Issei Kato
Kapal tanker Liquefied Natural Gas (LNG) terlihat menuju pembangkit listrik di Futtsu, Tokyo, Jepang, Senin (13/11/2017). - Reuters/Issei Kato

Bisnis.com, JAKARTA - Harga gas alam berjangka stagnan pada perdagangan Jumat (20/9/2019), karena proyeksi permintaan tidak mengalami perubahan.

Berdasarkan data Bloomberg, harga gas alam di New York Mercantile Exchange ditutup melemah 0,16 persen atau 0,00 poin ke posisi US$2,53 per mmBtu.

Hasil tersebut mengikuti penurunan hampir 4 persen pada Kamis (19/9/2019), pengurangan persentase harian terbesar sejak pertengahan Juli, karena persediaan gas yang lebih besar dari perkiraan dan permintaan yang lebih dinggin pada minggu depan.

Untuk minggu ini, harga kontrak acuan kehilangan sekitar 3 persen, menempatkan turun untuk pertama kalinya dalam empat minggu.

Meskipun cuaca diperkirakan akan tetap lebih hangat dari biasanya hingga awal Oktober, para pedagang mencatat, akhir September atau awal Oktober masih jauh lebih dingin daripada pertengahan musim panas.

Tetapi para analis mengatakan, cuaca ringan yang persisten dapat mengurangi permintaan gas karena rumah dan perkantoran tidak perlu menggunakan pendingin udara atau pemanas ruangan.

Penyedia data Refinitiv memproyeksikan permintaan gas rata-rata di 48 negara bagian AS akan turun dari 85,5 miliar kaki kubik per hari (bcfd) menjadi 82,0 bcfd minggu depan.

Namun dalam dua minggu, permintaan diperkirakan akan naik menjadi 83,3 bcfd karena ekspor meningkat.

Gas mengalir ke pabrik ekspor gas alam cair (LNG) AS turun menjadi 5,8 bcfd pada Jumat (20/9/2019) karena penutupan Cove Point dari Dominion Energy Inc di Maryland, turun dari rata-rata 6,5 <

Proyeksi aliran gas ke terminal LNG dapat meningkat menjadi sekitar 6,6 bcfd dalam beberapa minggu mendatang.

Ekspor ke Meksiko, sementara itu, melonjak ke rekor tertinggi 5,6 bcfd minggu ini karena gas mulai mengalir melalui pipa Valley Crossing 2,6-bcfd dan Sur de Texas-Tuxpan setelah TC Energy Corp, serta unit IENOVA Sempra menyelesaikan perselisihan kontrak pipa dengan Federal Mexico.

Analis mengatakan utilitas kemungkinan menambahkan 86 miliar kaki kubik gas ke penyimpanan selama pekan yang berakhir 20 September, dibandingkan dengan injeksi 51 bcf pada minggu yang sama tahun lalu.

Jika benar, kenaikan akan meningkatkan stok menjadi 3,189 triliun kaki kubik (tcf), 1,9 persen di bawah rata-rata lima tahun 3,252 tcf untuk sepanjang tahun ini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

gas alam
Editor : Akhirul Anwar
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top