Tensi AS-China Mencair, Dolar Bergerak Stabil

Indeks dolar Amerika Serikat (AS) terpantau bergerak stabil pada perdagangan pagi ini, Kamis (12/9/2019), di tengah mencairnya ketegangan perdagangan antara AS dan China.
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 12 September 2019  |  09:19 WIB
Tensi AS-China Mencair, Dolar Bergerak Stabil
Lembaran mata uang rupiah dan dolar AS diperlihatkan di salah satu jasa penukaran valuta asing di Jakarta, Senin (2/7/2018)./ANTARA FOTO - Puspa Perwitasari

Bisnis.com, JAKARTA – Indeks dolar Amerika Serikat (AS) terpantau bergerak stabil pada perdagangan pagi ini, Kamis (12/9/2019), di tengah mencairnya ketegangan perdagangan antara AS dan China.

Berdasarkan data Bloomberg, indeks dolar AS, yang mengukur kekuatan dolar AS terhadap sejumlah mata uang dunia, cenderung flat dengan turun hanya 0,017 poin atau 0,02 persen ke level 98,628 pada pukul 08.27 WIB dari level penutupan perdagangan sebelumnya.

Pada perdagangan Rabu (11/9), indeks dolar AS mampu menguat 0,32 persen atau 0,319 poin di level 98,645, kenaikan hari kedua berturut-turut.

Dilansir dari Reuters, dua negara berekonomi paling panas di dunia tersebut memberikan konsesi dalam perselisihan mereka. China membebaskan sekelompok barang AS dari pengenaan tarifnya, sementara Presiden AS Donald Trump mengatakan akan menunda kenaikan tarif yang dijadwalkan berlaku pada Oktober.

Trump mengatakan Amerika Serikat sepakat untuk menunda kenaikan tarif terhadap impor China senilai US$250 miliar dari 1 Oktober menjadi 15 Oktober.

Menurut Trump, penundaan dilakukan atas permintaan Wakil Perdana Menteri China, Liu He, dan karena fakta bahwa Republik Rakyat China akan merayakan Hari Jadi ke-70 mereka.

Penundaan pemberlakuan tarif impor itu akan memberi ruang bagi pembicaraan kedua pihak setelah saling memberlakukan tarif baru satu sama lain pada 3 September lalu.

Langkah pengenaan tarif antara kedua negara selama ini telah meresahkan pasar keuangan dan meningkatkan momok resesi global.

“Ini langkah yang mendamaikan,” ujar Joe Capurso, pakar strategi mata uang senior di Commonwealth Bank of Australia di Sydney, sambil memperingatkan pasar agar tidak terlalu terbawa dalam situasi positif tersebut.

“Ini bukanlah perubahan kebijakan, kita tidak melihat bukti kuat bahwa akan ada perjanjian permanen untuk menurunkan tariff-tarif,” jelasnya.

Penggerak utama lainnya untuk pasar mata uang pada hari ini adalah pertemuan Bank Sentral Eropa (European Central Bank/ECB), dimana ekspektasi pelonggaran telah melemahkan nilai tukar euro.

ECB diperkirakan akan mendorong suku bunga lebih jauh ke wilayah negatif. ECB juga dapat menyesuaikan sikapnya untuk keputusan penetapan suku bunga yang akan datang oleh bank sentral AS Federal Reserve dan Bank of Japan (BOJ) pekan depan, serta untuk daya tarik aset berisiko global.

Nilai tukar euro terhadap dolar AS pagi ini terpantau menguat tipis 0,03 persen ke level US$1,1013 pukul 08.38 WIB, setelah berakhir melemah 0,30 persen di posisi 1,1010 pada perdagangan Rabu (11/9).

“Reaksi pasar kemungkinan akan bergantung pada konfirmasi penurunan suku bunga,” ujar David de Garis, direktur ekonomi dan pasar di National Australia Bank di London.

ECB diantisipasi akan menurunkan suku bunganya, berjanji untuk mempertahankan suku bunga rendah lebih lama, serta memberikan sokongan pada bank atas efek samping dari suku bunga negatif.

Namun, pembelian-pembelian aset baru, yang telah diperhitungkan oleh pasar, bukan merupakan kesepakatan yang dilakukan dengan beberapa pembuat kebijakan konservatif yang menentang langkah tersebut.

Posisi indeks dolar AS
TanggalPosisi

12/9/2019

(Pk. 08.27 WIB)

98,628

(-0,02 persen)

11/9/2019

 

98,645

(+0,32 persen)

10/9/2019

 

98,326

(+0,05 persen)

Sumber: Bloomberg

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
dolar as

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top