Rekomendasi Saham: Menanti TBIG Tembus Rp7.000

Sepanjang tahun berjalan 2019, saham TBIG mengemas return 77,78%. Pada perdagangan Senin (9/9/2019), saham TBIG ditutup naik 3,23% menuju Rp6.400.
Duwi Setiya Ariyanti
Duwi Setiya Ariyanti - Bisnis.com 10 September 2019  |  16:12 WIB

Bisnis.com, JAKARTA—Rencana perusahaan telekomunikasi untuk menggelontorkan modal jumbo pada tahun ini guna memperkuat jaringan 4G dinilai menjadi titian bagi laju saham PT Tower Bersama Infrastructure Tbk. (TBIG) untuk mencapai level Rp7.000.

Sepanjang tahun berjalan 2019, saham TBIG mengemas return 77,78%. Pada perdagangan Senin (9/9/2019), saham TBIG ditutup naik 3,23% menuju Rp6.400.

Kepala Riset Koneksi Kapital Alfred Nainggolan mengatakan pertumbuhan laba bersih untuk emiten sektor menara diperkirakan berkisar 5% hingga 10%. Pertumbuhan tersebut sejalan dengan upaya operator telekomunikasi untuk merealisasikan belanja modal yang tinggi pada tahun ini pada jaringan 4G.

Dia pun merekomendasikan hold untuk TBIG dengan target harga Rp5.560 per saham karena kinerjanya yang cukup baik pada semester I/2019 dan proyeksi yang masih menjanjikan pada semester II/2019.

TBIG meraup pendapatan sebesar Rp2,27 triliun semester I/2019 atau naik 9,57% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu yakni sebesar Rp2,07 triliun.

Namun, laba bersihnya justru mengalami penurunan sebesar 5,16% yakni dari Rp402,97 miliar pada semester I/2018 menjadi Rp382,14 miliar pada semester I/2019.

“TBIG target harganya di Rp5.560 karena kolokasinya itu yang tertinggi 1,7 kali. Di bisnis menara itu kalau kolokasinya makin tinggi berarti makin bagus,” katanya saat dihubungi Bisnis, belum lama ini.

Dikutip dari hasil risetnya, Analis PT Deutsche Verdhana Sekuritas Indonesia Raymond Kosasih memproyeksikan bahwa TBIG akan meraup pendapatan sebesar Rp4,67 triliun dan laba bersih Rp895,8 miliar pada 2019. Menurutnya, dengan mengandalkan Telkomsel sebagai konsumen utama, perseroan telah mengamankan performa keuangan yang menjanjikan hingga akhir tahun.

Terlebih, dengan tren fiberisasi jaringan, sulit bagi operator seluler untuk berganti vendor menara. Hal tersebut, bisa menjadi pendukung perbaikan kinerja di tengah lesunya pembaruan kontrak yang perlu diantisipasi untuk prospek jangka panjang.

Dia pun mempertegas rekomendasi buy untuk saham TBIG dengan target harga Rp7.100.

Sejumlah pertimbangan atas rekomendasi itu, yakni lebih tingginya pembaruan sewaan lahan, tren ekonomi makro dan tantangan untuk mengamankan situs baru guna ekspansi jaringan para operator.

“Secara jangka panjang, kami menilai konsen terhadap lebih rendahnya angka pembaruan kontrak akan lebih rendah dari apa yang diantisipasi pasar. Utamanya, menurut kami, meningkatnya fiberisasi menara untuk mengakomodasi layanan data. Hal itu akan membuat operator semakin sulit untuk berganti penyedia menara,” katanya.

Gani, analis Ciptadana Sekuritas Asia, menuliskaan TBIG berpeluang untuk memperoleh order pembangunan menara dan meningkatkan rasio kolokasi.

"Kami perkirakan TBIG akan mendapat 2.500 tenant baru per tahun pada periode 2019 hingga 2021. Sementara itu, tenancy rate meningkat ke kisaran 1,74 kali hingga 1,83 kali," tulisnya dalam riset, Senin (9/9/2019).

Pada 2019, pendapatan TBIG diestimasi mencapai Rp4,67 triliun dan laba bersihnya Rp921 miliar. Kenaikan laba bersih, lanjutnya, ditopang oleh raihan kontrak yang telah mencapai Rp22,9 triliun per semester I/2019.

Ciptadana Sekuritas merekomendasikan beli TBIG dengan target harga Rp9.350 per saham. Target itu berdasarkan indikator DCF-based dan mencerminkan proyeksi nilai buku per EBITDA (EV/EBITDA) 14,7 kali pada 2020.

Rekomendasi Saham TBIG
SekuritasRekomendasiTarget Harga (Rp)
Ciptadana Sekuritasbuy9.350
J.P. Morganneutral6.000
Goldman Sachsneutral6.050
Deutsche Bankbuy8.000
Morgan StanleyEqualwt/In-Line4.000
HSBCbuy5.900
DBS Bankhold4.500
Credit Suisseneutral4.750
New Street Researchbuy6.750
Macquarieneutral5.300

Sumber: Bloomberg, per 10 September 2019.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
rekomendasi saham, tower bersama infrastructure

Editor : Ana Noviani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top