Data Perdagangan Jerman Positif, Euro Berpotensi Berbalik Menguat

Berdasarkan data Bloomberg, hingga pukul 17.53 WIB, euro masih berada di zona merah dengan bergerak menurun 0,05% menjadi US$1,1023 per euro.
Finna U. Ulfah
Finna U. Ulfah - Bisnis.com 09 September 2019  |  19:03 WIB
Data Perdagangan Jerman Positif, Euro Berpotensi Berbalik Menguat
Mata uang Euro - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA - Euro berpotensi untuk berbalik menguat pada perdagangan Senin (9/9/2019) seiring dengan data perdagangan Jerman yang berhasil dirilis lebih baik dibandingkan dengan ekspektasi pasar.

Berdasarkan data Bloomberg, hingga pukul 17.53 WIB, euro masih berada di zona merah dengan bergerak menurun 0,05% menjadi US$1,1023 per euro.

Analis PT Monex Investindo Futures Andian dalam publikasi risetnya mengatakan bahwa data Jerman tersebut menjadi katalis positif bagi euro untuk bergerak menguat melawan dolar AS.

Kantor Statistik Federal Jerman melaporkan data ekspor yang disesuaikan secara musiman naik 0,7% pada Juli, sedangkan impor turun 1,5%.

Sementara itu, surplus perdagangan naik menjadi 20,2 miliar euro atau sekitar US$22,27 miliar, setelah turun pascarevisi menjadi 18 miliar euro pada bulan sebelumnya.

“Pasangan EUR/USD berpotensi naik untuk menguji level resisten US$1,1060 hingga US$1,1100 per euro,” ujar Andian seperti dikutip dari risetnya, Senin (9/9/2019).

Selanjutnya, pasar masih akan menantikan kepastian kebijakan moneter dari hasil pertemuan European Central Bank (ECB) yang akan dirilis pada Kamis (12/9/2019). ECB diprediksi memangkas suku bunga deposito perbankan dan menggelontorkan stimulus, termasuk pembelian obligasi kembali.

Seperti yang diketahui, pabrik-pabrik di zona Eropa, khususnya di Jerman, sedang berjuang menghadapi perlambatan pertumbuhan sebagai dampak perang dagang AS-China sehingga Presiden ECB Mario Draghi tidak akan membiarkan euro untuk menguat.

Pasalnya, ketika euro akan semakin menguat, ekonomi kawasan Eropa yang telah tertekan tersebut semakin diproyeksi akan mengalami resesi.

Namun, mengutip Bloomberg, mayoritas analis menilai ECB yang diprediksi lebih banyak membeli obligasi pemerintah tidak akan menyelesaikan masalah ini, dan melemahkan euro melalui suku bunga yang lebih rendah hanya akan menimbulkan kerusakan pada bank-bank Eropa.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kurs, euro

Editor : Ana Noviani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top