Lanjut Menghijau, Rupiah Terkuat di Asia

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah berhasil melanjutkan penguatannya selama 4 perdagangan berturut-turut di level Rp14.035 per dolar AS, menguat 0,47% atau 67 poin.
Finna U. Ulfah
Finna U. Ulfah - Bisnis.com 09 September 2019  |  17:32 WIB
Lanjut Menghijau, Rupiah Terkuat di Asia
Karyawan memperlihatkan mata uang rupiah di salah satu bank di Jakarta. - JIIBI/Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA - Rupiah kembali menunjukkan keperkasaannya pada perdagangan Senin (9/9/2019), ditutup menguat melawan dolar AS dan menjadi yang terkuat di antara mata uang Asia lainnya.

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah berhasil melanjutkan penguatannya selama 4 perdagangan berturut-turut di level Rp14.035 per dolar AS, menguat 0,47% atau 67 poin. Penguatan rupiah menjadi yang terkuat di Asia, mengalahkan won yang hanya berhasil menguat sebesar 0,34%.

Sepanjang tahun berjalan 2019, rupiah juga masih bergerak di zona hijau dengan menguat 2,52% dan berada di posisi ketiga mata uang Asia dengan kinerja terbaik, di bawah baht dan yen.

Analis PT Monex Investindo Futures Faisyal mengatakan bahwa penguatan rupiah dipicu oleh meningkatnya minat pasar terhadap aset berisiko karena pasar tengah berharap Bank Sentral China dan Jepang dapat menggelontorkan stimulus untuk mendukung pertumbuhan ekonominya.

“Data ekspor-impor China dan data PDB Jepang kuartal kedua tahun ini yang melemah menghidupkan ekspetasi pasar bahwa bank sentral kedua negara tersebut akan mengeluarkan stimulus sehingga membuat aset berisiko menjadi lebih menarik bagi pasar, termasuk rupiah,” ujar Faisyal kepada Bisnis, Senin (9/9/2019).

Selain itu, dia mengatakan, sentimen harapan pemangkasan suku bunga deposito oleh ECB tersebut juga dapat menjadi katalis positif bagi rupiah untuk jangka pendek.

Kendati demikian, pasar tampak cenderung wait and see, menanti kepastian pemangkasan suku bunga acuan oleh The Fed. Komentar Ketua The Fed Jerome Powell dinilai masih cenderung ambigu terkait pemangkasan suku bunga acuan The Fed pada pertemuan bulan ini.

Dia mengatakan bahwa rupiah berpotensi untuk bergerak menguat di kisaran Rp13.975 per dolar AS hingga Rp14.075 per dolar AS pada perdagangan Selasa (10/9/2019) seiring dengan rilis data CPI China.

“Jika data CPI China dirilis lebih buruk dibandingkan dengan ekspektasi, terdapat kemungkinan pasar justru akan merespons positif sentimen tersebut karena menguatkan harapan pasar adanya stimulus dari PBOC, apalagi data sebelumnya juga kurang memuaskan,” papar Faisyal.

Sementara itu, Direktur Utama PT Garuda Berjangka Ibrahim mengatakan bahwa cadangan devisa Indonesia pada akhir Agustus 2019 yang tercatat sebesar US$126,4 miliar atau meningkat US$500 juta dibandingkan dengan akhir Juli sebesar US$125,9 miliar telah membantu rupiah untuk bergerak menguat.

“Ini membuktikan bahwa ekonomi dalam negeri di tengah perang dagang dan Brexit masih cukup terkendali. Pemerintah dan BI yang bekerja sama untuk mengendalikan pasar membuat ekonomi Indonesia dipandang membaik di saat negara lain terguncang,” papar Ibrahim seperti dikutip dari keterangan resminya.

Dia memprediksi, rupiah masih melanjutkan penguatannya dengan bergerak di kisaran Rp13.995 per dolar AS hingga Rp14.100 per dolar AS pada perdagangan Selasa (10/9/2019) didorong oleh data eksternal dan internal yang masih positif.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kurs, Rupiah

Editor : Ana Noviani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top