Pasar Obligasi Diproyeksi Bergerak Variatif 25-60 Bps

Pagi ini pasar obligasi diperkirakan masih akan dibuka bervariatif.
Duwi Setiya Ariyanti
Duwi Setiya Ariyanti - Bisnis.com 05 September 2019  |  08:52 WIB
Pasar Obligasi Diproyeksi Bergerak Variatif 25-60 Bps
Karyawan mencari informasi tentang obligasi di Jakarta, Rabu (17/7/2019). - Bisnis/Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA--Pasar obligasi diperkirakan bakal bergerak bervariasi pada perdagangan hari ini dengan ruang pergerakan di kisaran 25 basis poin hingga 60 basis poin (bps).

Dikutip dari hasil riset hariannya, Kamis (5/9/2019), Direktur Riset Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus mengatakan pergerakan harga surat utang negara pada perdagangan hari ini diperkirakan bervariasi dan terbatas di rentang tersebut. Alasannya, investor masih harus menghadapi ketidakpastian tinggi.

"Pagi ini pasar obligasi diperkirakan masih akan dibuka bervariatif, dengan rentang pergerakan harga 25 – 60 bps. Selama pergerakan obligasi masih dalam rentang tersebut, pasar obligasi tidak akan bergerak kemana mana," ujarnya.

Lebih lanjut, beberapa sentimen yang mempengaruhi pergerakan harga SUN pada perdagangan hari ini yaitu pertama, isyarat China untuk memangkas giro wajib minimum. Adapun, China telah memotong rasio GWM sebanyak empat kali pada 2018 yang bertujuan untuk menyediakan lebih banyak dana bagi perbankan sehingga bisa diserap sektor riil.

Alasannya, proyeksi analis terhadap pertumbuhan ekonomi China pada 2020 semakin rendah yakni di bawah 6% karena mempertimbangkan peluang semakin kusutnya perang dagang China-AS.

Sentimen kedua, berasal dari Hong Kong. Sebelumnya, Pemimpin Eksekutif Hong Kong Carrie Lam menyatakan menerima salah satu tuntutan demonstran yakni mencabut Rancangan Undang Undang (RUU) Ekstradisi setelah aksi yang berlangsung selama kurang lebih tiga bulan.

Kendati demikian, Maximilianus memperkirakan masih terdapat empat tuntutan tersisa sehingga demonstrasi masih bakal berjalan untuk mendorong Pemerintah mengabulkan seluruh tuntutan. Dengan demikian, masalah Hong Kong masih meninggalkan ketidakpastian bagi investor.

Seperti diketahui, selain meminta agar pencabutan RUU Ekstradisi dilakukan, demonstran meminta empat hal lain yakni, menyebut demonstrasi tersebut sebagai gerakan bukan kerusuhan. Kemudian, membersihkan nama pengunjuk rasa antiekstradisi dari segala tuduhan. Lalu, membentuk komite independen untuk menyelidiki kuasa polisi dan melakukan pemilihan kepala eksekutif dan parlemen pada 2020.

Sentimen ketiga yang mempengaruhi perdagangan obligasi hari ini berasal dari langkah Perdana Menteri Inggris Boris Johnson yang gagal mendapatkan restu parlemen untuk menggelar pemilihan lebih cepat. Hal itu menjadi indikasi hengkangnya Inggris dari Blok Eropa bakal semakin sulit.

Kegagalan tersebut menjadi sinyal bahwa Boris Johnson bakal menempuh langkah Hard Brexit yakni Inggris bakal tetap keluar dari Blok Eropa meskipun tanpa kesepakatan. Potensi ini diproyeksikan akan mengganggu stabilitas politik dan ekonomi di Inggris dan Eropa.

Terakhir, dari dalam negeri, Bank Indonesia memberikan sinyal untuk kembali melakukan pemangkasan lanjutan suku bunga acuan. Langkah ini dipilih untuk mendorong pertumbuhan sektor manufaktur sehingga pertumbuhan ekonomi bisa terpacu.

Seperti diketahui, sejak Juli hinga September Bank Indonesia telah melakukan pemangkasan suku bunga acuan sebanyak dua kali dengan bobot 50 basis poin. Adapun, suku bunga acuan turun dari 6% menjadi 5,5%.

Atas proyeksi dan pertimbangan itu, dia merekomendasikan agar investor melakukan wait and see pada perdagangan hari ini.

"Kami merekomendasikan wait and see hari ini," katanya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Obligasi

Editor : Ana Noviani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top