Harga Minyak Mentah Masih Naik, Efek Perang Dagang Menghantui

Harga minyak mentah berhasil menguat pada akhir perdagangan (28/8/2019) di tengah tanda-tanda bahwa upaya pengurangan pasokan oleh Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) telah menguras persediaan minyak AS.
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 29 Agustus 2019  |  07:29 WIB

Bisnis.com, JAKARTA - Harga minyak mentah berhasil menguat pada akhir perdagangan (28/8/2019) di tengah tanda-tanda bahwa upaya pengurangan pasokan oleh Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) telah menguras persediaan minyak AS.

Kendati demikian, reli minyak mentah dibatasi oleh kekhawatiran bahwa sengketa perdagangan antara Amerika Serikat (AS) dan China akan menghambat pertumbuhan permintaan.

Berdasarkan data Bloomberg, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak Oktober 2019 ditutup menguat 85 sen di level US$55,78 per barel di New York Mercantile Exchange setelah sempat menyentuh level 56,75.

Adapun minyak Brent kontrak Oktober 2019 menanjak 98 sen dan berakhir di level US$60,49 per barel setelah sempat menyentuh level US$61 di ICE Futures Europe Exchange. Minyak acuan global ini diperdagangkan premium sebesar US$4,71 per barel terhadap WTI.

Dilansir dari Bloomberg, kontrak berjangka minyak di New York melonjak 3,3 persen setelah Energy Information Administration (EIA) pada Rabu (28/8) melaporkan penurunan jumlah persediaan minyak mentah sebesar 10 juta barel. Hal ini sejalan dengan perkiraan sebelumnya oleh American Petroleum Institute (API).

Namun, harga minyak kemudian merosot sekitar separuh dari kenaikannya setelah investor mengalihkan perhatian mereka kembali pada sentimen kekhawatiran perdagangan.

“Pasar masih sangat mengkhawatirkan tarif dan perang dagang serta pengaruhnya terhadap permintaan minyak,” jelas Andy Lipow, Presiden Lipow Oil Associates LLC., dikutip dari Bloomberg.

“Investor tidak hanya bergulat dengan pergolakan perdagangan Presiden Donald Trump dengan Beijing, tetapi juga pertikaian yang tumbuh antara Korea Selatan dan Jepang, yang berpotensi dapat merusak permintaan minyak,” tambahnya.

Asia bukan satu-satunya wilayah di mana sengketa perdagangan memunculkan ketidakpastian dalam konsumsi minyak. Di Eropa, Inggris masih dalam kesulitan untuk mencapai kesepakatan Brexit (keluarnya Inggris dari Uni Eropa).

“Brexit tanpa kesepakatan secara efisien dapat memperlambat perdagangan. Dan itu akan memengaruhi permintaan minyak,” ujar Vikas Dwivedi, ekonom minyak dan gas global di Macquarie Capital USA Inc., Houston.

Namun, satu hal yang harus diwaspadai pasar dalam beberapa pekan mendatang adalah produksi minyak AS. Menurut Dwivedi, rekor volume mingguan di 12,5 juta barel per hari, yang terakumulasi, akan membebani harga.

"Penurunan dapat datang dan pergi dan menghilang secara musiman karena perputaran kilang dan lesunya permintaan. Tapi jika pertumbuhan suplai secepat angka saat ini maka bisa terus menjadi kekhawatiran selama beberapa bulan,” pungkasnya.

Pergerakan minyak mentah WTI kontrak Oktober 2019

Tanggal

Harga (US$/barel)

Perubahan

28/8/2019

55,78

+0,85 poin

27/8/2019

54,93

+1,29 poin

26/8/2019

53,64

-0,53 poin

Pergerakan minyak mentah Brent kontrak Oktober 2019

Tanggal

Harga (US$/barel)

Perubahan

28/8/2019

60,49

+0,98 poin

27/8/2019

59,91

+1,21 poin

26/8/2019

58,70

-0,64 poin

Sumber: Bloomberg

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Harga Minyak

Editor : Mia Chitra Dinisari
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top