Permintaan Investor dalam Lelang SUN Diproyeksi Hingga Rp50 Triliun

Sentimen positif dari penurunan suku bunga acuan dan relaksasi pajak bunga obligasi dinilai tak bertaji karena faktor eksternal yakni perang dagang justru menekan kepercayaan investor.
Duwi Setiya Ariyanti
Duwi Setiya Ariyanti - Bisnis.com 27 Agustus 2019  |  07:43 WIB
Permintaan Investor dalam Lelang SUN Diproyeksi Hingga Rp50 Triliun
Karyawan mencari informasi tentang obligasi di Jakarta, Rabu (17/7/2019). - Bisnis/Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA--Lelang surat utang negara (SUN) pada hari ini diproyeksi tidak terlalu ramai peminat dan menarik penawaran masuk maksimal Rp50 triliun.

Analis fixed income Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Dhian Karyantono mengatakan lelang SUN kali ini bakal bisa menggaet minat investor yakni dengan perkiraan penawaran masuk sebesar Rp35 triliun hingga Rp50 triliun.

Menurutnya, proyeksi tersebut didasarkan pada tren kenaikan harga SUN pekan lalu. Selain itu, penurunan suku bunga acuan dan negosiasi padaperang dagang China-AS.

Kendati demikian, dia menyebut rata-rata lelang berada di Rp50,64 triliun sejalan dengan rata-rata volume transaksi SUN di pasar sekunder yang tidak terlaku besar pada pekan lalu.

“Tingkat incoming bids diperkirakan masih berada di bawah rata-rata incoming bids sejauh ini pada  2019 yaitu sebesar Rp50,64 triliun seiring dengan rata-rata volume transaksi SUN di pasar sekunder sejak pekan lalu yang tidak terlalu besar,” katanya.

Dihubungi terpisah, Direktur Riset Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus mengatakan tingginya ketidakpastian melatari lelang SUN besok. Menurutnya, sentimen positif dari penurunan suku bunga acuan dan relaksasi pajak bunga obligasi tak bertaji karena faktor eksternal yakni perang dagang justru menekan kepercayaan investor.

Oleh karena itu, dia memproyeksikan bahwa lelang besok tak akan mengundang minat investor yang cukup tinggi.

"Meskipun ada potensi penawaran yang cukup besar, tingginya ketidakpastian membuat orang menahan," ujarnya saat dihubungi Bisnis, Senin (26/8/2019).

Sebagai contoh, dia menyebut pada hari ini kendati pasar obligasi diproyeksi menghijau, kenyatannya melemah akibat ketidakpastian global.

Selain itu, kepemilikan asing dalam surat berharga negara (SBN) seara perlahan turun akibat tertekan ketidakpercayaan investor terhadap kondisi global. Di tengah tingginya ketidakpastian, dia berujar, investor berharap kupon yang lebih tinggi sebagai imbalannya.

"Yield semestinya ketika ketidakpastian meningkat, ada risiko yang meningkat, semestinya imbal yang diminta akan tinggi," katanya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Obligasi, surat utang negara

Editor : Ana Noviani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top