Lelang SUN, Selasa 27 Agustus 2019, Diprediksi Lesu

Lelang surat utang negara (SUN) yang bakal digelar Selasa (27/8/2019) diperkirakan bakal lesu akibat sentimen perang dagang China-AS yang mempengaruhi minat investor asing.
Duwi Setiya Ariyanti
Duwi Setiya Ariyanti - Bisnis.com 27 Agustus 2019  |  01:31 WIB
Lelang SUN, Selasa 27 Agustus 2019, Diprediksi Lesu
Karyawan mencari informasi tentang obligasi di Jakarta, Rabu (17/7/2019). - Bisnis/Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA - Lelang surat utang negara (SUN) yang bakal digelar Selasa (27/8/2019) diperkirakan bakal lesu akibat sentimen perang dagang China-AS yang mempengaruhi minat investor asing. 

Head of Investment Research PT Infovesta Utama, Wawan Hendrayana mengatakan sentimen perang dagang bakal membayangi sikap investor dalam lelang SUN Selasa (27/8/2019)

Menurutnya, sebagian investor cenderung lebih berhati-hati di tengah memanasnya perang dagang. Terlebih, pada pertemuan G7, perang dagang China-AS kian panas pascapembalasan China dengan mengenakan tarif pada mobil dan suku cadang mobil asal AS.

Oleh karena itu, dia pun memperkirakan penawaran yang masuk berada di kisaran Rp20 triliun hingga Rp25 triliun. Pada lelang sebelumnya, pemerintah meraup dana senilai Rp15 triliun dari penawaran yang masuk menyentuh Rp26,5 triliun. Adapun, Pemerintah menargetkan Rp185 triliun dari 13 kali penawaran di kuartal III/2019.

Kondisi asing yang lebih berhati-hati itu pun terlihat pada turunnya kepemilikan asing dalam surat berharga negara (SBN). Pada data outstanding yang tercatat Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko, di pekan lalu sempat menyentuh Rp1.004,95 triliun atau lebih rendah dari realisasi pada awal Agustus yang menyentuh Rp1.018,22 triliun. 

“Sentimen perang dagang masih berpengaruh di mana sebagian investor asing memilih flight to safety,” ujarnya saat dihubungi Bisnis, Senin (26/8/2019).

Lebih lanjut, dari sisi yield, dia memperkirakan kisaran yield yang ditawarkan dari 6,8 persen hingga 8,1 persen sebagai imbas dari penurunan suku bunga acuan. Seperti diketahui, pekan lalu Bank Indonesia memutuskan pemangkasan lanjutan suku bunga acuan dari 5,75 persen menjadi 5,5 persen. 

Menurutnya, dalam jangka pendek, penurunan suku bunga tersebut pun bakal mengikis minat investor terhadap SUN. 

“Dengan penurunan suku bunga tentu saja yield yang akan ditawarkan SUN juga turun. Dalam jangka pendek hal ini bisa membuat minat investor berkurang karena untuk yang masih mengincar yield lebih tinggi,” katanya. 

Dihubungi terpisah, analis fixed income Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Dhian Karyantono mengatakan lelang SUN kali ini bakal bisa menggaet minat investor yakni dengan perkiraan penawaran masuk sebesar Rp35 triliun hingga Rp50 triliun. 

Menurutnya, proyeksi tersebut didasarkan pada tren kenaikan harga SUN pekan lalu. Selain itu, penurunan suku bunga acuan dan negosiasi padaperang dagang China-AS.

Kendati demikian, dia menyebut rata-rata lelang berada di Rp50,64 triliun sejalan dengan rata-rata volume transaksi SUN di pasar sekunder yang tidak terlaku besar pada pekan lalu. 

“Tingkat incoming bids diperkirakan masih berada di bawah rata-rata incoming bids sejauh ini di tahun 2019 yaitu  sebesar Rp50,64 triliun seiring dengan rata-rata volume transaksi SUN di pasar sekunder sejak pekan lalu yang tidak terlalu besar,” katanya

Beberapa Sentimen

Ekonom PT Pemeringkat Efek Indonesia, Fikri C Permana mengatakan pada lelang SUN, Selasa (27/8/2091) masih akan tetap mengalami oversubscribe dua kali kendati lelang ini merupakan lelang pertama pascapemangkasan lanjutan suku bunga acuan oleh Bank Indonesia. 

Dia menyebut proyeksi tersebut mempertimbangkan beberapa sentimen. Pertama, masih lebarnya selisih antara yield obligasi Indonesia dengan Tresuri AS. 

Kedua, kurs rupiah terhadap dolar AS yang stabil meskipun hari ini mendapat tekanan. Ketiga, sentimen dovish dari Bank Indonesia dan The Fed. Terakhir, insentif return pada obligasi. 

“Sepertinya lelang besok masih akan mengalami oversubsrcibe,setidaknya 2 kali,” katanya. 

Menurutnya, nilai kupon yang bakal dimenangkan di kisaran 10 basis poin hingga 25 basis poin di atas kupon indikatif. Adapun, transaksi tertinggi bakal berasal dari SUN tenor pendek-menengah karena prinsip kehati-hatian Pemerintah dalam mengelola keuangan. 

“Mengingat pemerintah juga telah menyerap SBN di atas Rp250 triliun tahun ini. Ditambah dengan pengelolaan yang hati-hati, kembali saya cenderung melihat kemungkinan seri tenor yang dimenangkan adalah seri dengan tenor pendek-menengah,” katanya. 

Pemerintah menetapkan target indikatif Rp15 triliun dan target maksimal Rp30 triliun dari penawaran tujuh seri SUN. Adapun, SUN kupon diskonto diwakili dua seri yakni SPN03191128 dan SPN12200508. SUN seri SPN03191128 merupakan seri baru yang ditawarkan Pemerintah dalam lelang kali ini.

Sisanya, yakni FR0081 dengan kupon 6,5 persen dan jatuh tempo pada 15 Juni 2025, FR0082 dengan kupon 7 persen dan jatuh tempo pada 15 September 2030 serta FR0080 dengan kupon 7,5 persen yang jatuh tempo pada 15 Juni 2035. Terakhir, seri FR0079 yang menawarkan kupon 8,375 persen dan jatuh tempo pada 15 April 2039 serta FR0076 dengan kupon 7,375 persen dan jatuh tempo pada 15 Mei 2048.

 

Seri

Jatuh Tempo

Kupon Indikatif

Perkiraan Kupon

SPN03191128

28 November 2019

diskonto

5.65% - 5.75%

SPN12200508

8 Mei 2020

diskonto

5.80% - 5.90%

FR0081

15 Juni 2025

6.5%

6.69% - 6.75% 

FR0082

15 Sep 2030

7%

7.25% - 7.30%

FR0080

15 Juni 2035

7.5%

7.57% - 7.62%

FR0079

15 April 2039

8.375%

7.75% - 7.80%

FR0076

15 Mei 2048

7.375%

7.99% - 8.05%

 Sumber: Proyeksi Mirae Asset Sekuritas Indonesia 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
surat utang negara, perang dagang AS vs China

Editor : Nancy Junita

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top