Harga SUN Diproyeksi Tertekan, Fokus Transaksi Jangka Panjang

Investor pasar obligasi tidak disarankan melakukan transaksi jangka pendek. Kendati demikian, transaksi bisa dilakukan pada seri SUN FR0078 dan FR0068.
Duwi Setiya Ariyanti
Duwi Setiya Ariyanti - Bisnis.com 26 Agustus 2019  |  09:49 WIB

Bisnis.com, JAKARTA--Harga surat utang negara (SUN) diperkirakan menurun akibat naiknya tensi perang dagang China-AS.

Dikutip dari hasil riset hariannya, Senin (26/8/2019), analis fixed income Mirae Asset Sekuritas Indonesia Dhian Karyantono mengatakan memanasnya perang dagang China-AS bakal menekan harga SUN hari ini.

Adapun, tensi perang dagang naik karena China menetapkan tarif impor terhadap asal AS sebesar 10% atau naik dari 5%. Pengenaan tarif baru pun bakal berlaku bersamaan dengan tarif yang dikenakan AS terhadap produk China yakni pada 1 September dan 15 Desember 2019. 

"Pergerakan harga SUN di pasar sekunder awal pekan ini, berpotensi mencatatkan level lebih rendah dibandingkan dengan akhir pekan lalu sebagai akibat dari eskalasi tensi perang dagang AS-China," ujarnya. 

Lebih lanjut, perang dagang bakal terus memanas karena China pun berencana mengenakan tarif impor sebesar 15% terhadap mobil buatan AS dan 5% terhadap komponen otomotif.

Akibat memburuknya perang dagang, indikator risiko naik signifikan yang tercermin pada indeks CBOE VIX, yang naik 19,12% ke kisaran 19,87 poin dibandingkan dengan hari sebelumnya. Dengan demikian, minat investor global berpotensi turun dan menarik aset mereka di negara berkembang ke instrumen safe haven. 

Meskipun demikian, pernyataan cenderung dovish dari Jerome Powell dalam acara Simposium Ekonomi Jackson Hole. Sentimen ini yang bakal mendorong penguatan harga SUN dalam jangka panjang.

The Fed menyatakan bakal berkomitmen untuk menjaga ekspansi ekonomi AS, sektor tenaga kerja, dan target inflasi The Fed di sinyal perlambatan pertumbuhan ekonomi global dan donwside risk bagi ekonomi AS akibat Brexit, perang dagang dan aksi di Hong Kong. 

Pidato yang cenderung dovish menjadi sinyal kuat penurunan suku bunga acuan sebesar 25 bps ke kisaran 1,75% - 2% pada FOMC Meeting September.

Atas kondisi tersebut, dia merekomendasikan agar investor tidak melakukan transaksi jangka pendek. Kendati demikian, transaksi bisa dilakukan pada seri SUN FR0078 dan FR0068. Hal itu, katanya, guna memanfaatkan potensi kenaikan harga SUN. 

Alasannya, terdapat potensi bagi harga SUN untuk menguat esok hari yang didorong oleh kemungkinan rilis data Dallas Fed Manufacturing Index per Agustus 2019 melanjutkan level kontraksi ke kisaran -6,11 poin hingga -7,69 poin. 

Selain itu, data pemesanan barang tahan lama AS diprediksi tumbuh negatif yakni sebesar -2,97% secara  hingga -3,27% secara bulanan atau di luar ekspektasi pasar yang memperkirakan tumbuh sebesar 1,00% secara bulanan. 

Sementara itu, dia menyarankan aksi hold hingga buy untuk transaksi jangka panjang. Beberapa seri yang bisa dicermati yakni SUN FR0082, FR0070, FR0078, FR0068, FR0080, FR0079, FR0059, FR0074, FR0072, FR0075 dan FR0065. Lalu, PBS014, PBS019, PBS021, PBS022, dan PBS015.  

FR0077 (5 tahun): 105,40 (6,77%) – 105,85 (6,66%)
FR0078 (10 tahun): 106,05 (7,36%) – 106,80 (7,26%) 
FR0068 (15 tahun): 105,50 (7,74%) – 106,40 (7,64%)
FR0079 (20 tahun): 105,25 (7,84%) – 106,25 (7,75%)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
surat utang negara, Obligasi

Editor : Ana Noviani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top