Tensi Perang Dagang Kembali Meningkat, Bursa Asia Terperosok

Bursa saham Asia merosot pada perdagangan Senin (26/8/2019) karena kembali meningkatnya tensi perang dagang AS-China yang mengguncang kepercayaan terhadap ekonomi dunia.
Aprianto Cahyo Nugroho
Aprianto Cahyo Nugroho - Bisnis.com 26 Agustus 2019  |  15:58 WIB
Tensi Perang Dagang Kembali Meningkat, Bursa Asia Terperosok
Bursa Asia MSCI - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA – Bursa saham Asia merosot pada perdagangan Senin (26/8/2019) karena kembali meningkatnya tensi perang dagang AS-China yang mengguncang kepercayaan terhadap ekonomi dunia.

Dalam sebuah pengumuman pekan lalu, Trump mengatakan tarif 25 persen eksisting terhadap impor China senilai US$250 miliar akan naik menjadi 30 persen pada 1 Oktober, bersamaan dengan peringatan ke-70 berdirinya Republik Rakyat China.

Di sisi lain, rencana penerapan tarif 10 persen untuk produk impor China lainnya senilai US$300 miliar akan mengalami kenaikan menjadi 15 persen dan dimulai dengan tahap pertama pada 1 September dan dilanjutkan pada 15 Desember.

"China dengan tegas menenta dan mendesak Washington untuk menghentikan perbuatan ini atau mereka akan menanggung konsekuensinya," menurut sebuah pernyataan dari Kementerian Perdagangan China, seperti dikutip melalui Bloomberg, Minggu (25/8/2019).

Tetapi pasar saham kemudian memangkas beberapa pelemahan setelah Trump mengatakan China telah menghubungi Washington semalam untuk mengatakan ingin kembali ke meja perundingan.

Berbicara di sela-sela KTT G7 di Prancis, Trump memuji Presiden China Xi Jinping sebagai pemimpin besar dan mengatakan ia menyambut keinginannya untuk kesepakatan perdagangan dan untuk ketenangan ekonomi.

Imbal hasil obligasi Treasury AS bertenor 10 tahun utang turun ke level terendah sejak pertengahan 2016, sementara emas mencapai level tertinggi sejak April 2013 karena investor berbondong-bondong mencari aset safe haven.

"Eskalasi perdagangan terbaru meningkatkan risiko resesi di atas apa yang sekarang menjadi perlambatan global," kata Eleanor Creagh, analis pasar di Saxo Capital Markets, seperti dikutip Reuters.

"Bagi investor, harapan kesepakatan perdagangan sepenuhnya salah tempat saat ini," tambahnya. "Logam mulia dan penambang emas akan terus menguat karena investor mencari tempat berlindung yang aman untuk mencegah volatilitas."

Indeks MSCI Asia Pacific di luar Jepang turun 1,9 persen, sedangkan indeks S&P/ASX 200 Australia melemah 1,27 persen. Sementara itu, indeks Topix dan Nikkei 225 Jepang melemah masing-masing 1,61 persen dan 2,17 persen.

Di China, indeks Shanghai Composite dan CSI 300 melemah masing-masing 1,17 persen dan 1,44 persen, sementara indeks Hang Seng merosot 1,94 persen.

"Risiko kerugian pada ekonomi dan pasar saham global meningkat," ungkap kata Mark Haefele, kepala investasi global di UBS.

"Akibatnya, kami mengurangi risiko dalam portofolio kami dengan beralih ke ekuitas lain untuk menurunkan eksposur kami terhadap ketidakpastian politik," lanjutnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Bursa Asia

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top