REKOMENDASI SAHAM: Otomotif Lesu, ASII Masih Layak Beli?

Saham raksasa otomotif, PT Astra International Tbk. sedang tidak bertenaga. Sejak awal tahun, ASII bergerak seperti roller coaster dan parkir di level harga terendah sepanjang tahun berjalan 2019. Apa pemicunya dan bagaimana prospeknya?
Muhammad Ridwan
Muhammad Ridwan - Bisnis.com 20 Agustus 2019  |  16:06 WIB
REKOMENDASI SAHAM: Otomotif Lesu, ASII Masih Layak Beli?
Presiden Direktur PT Astra International Tbk Prijono Sugiarto (kanan) didampingi Direktur Astra Paulus Bambang Widjanarko (kedua kanan), Chief of Astra Property David Iman Santosa (kedua kiri) dan Chief of Corporate Communications, Social Responsibility & Security Astra Pongki Pamungkas memperlihatkan progres pekerjaan Menara Astra seusai topping off Menara Astra dan Anandamaya Residences di Jakarta, Senin (20/2). - JIBI/Dedi Gunawan

Bisnis.com, JAKARTA – Saham raksasa otomotif, PT Astra International Tbk. sedang tidak bertenaga. Sejak awal tahun, ASII bergerak seperti roller coaster dan parkir di level harga terendah sepanjang tahun berjalan 2019. Apa pemicunya dan bagaimana prospeknya?

Berdasarkan data Bloomberg, ASII tergelincir 17,36% secara year-to-date dan menyentuh level Rp6.425 per saham pada akhir perdagangan Senin (19/8/2019). Level tersebut merupakan yang terendah sejak akhir 2018 yang ditutup di level Rp8.225 per saham.

Sepanjang tahun berjalan 2019, level harga tertinggi ASII terbentuk pada perdagangan 18 Januari 2019 saat ditutup di level Rp8.475 per saham. Dari level harga tertinggi itu, ASII sudah terjerembab 24,18%.

kinerja pendapatan dan laba ASII

Penurunan harga saham ASII seolah mencerminkan kekecewaan investor terhadap kinerja perseroan pada semester I/2019. Pasalnya, laba bersih ASII dari sektor otomotif tercatat turun 18% menjadi Rp3,46 triliun pada akhir Juni 2019 sejalan dengan kinerja industri otomotif nasional yang melorot.

Dalam riset yang dipublikasikan Bloomberg, analis Valbury Sekuritas Indonesia Budi Rustanto dan Devi Harjoto menuturkan capaian itu disebabkan oleh turunnya volume penjualan kendaraan roda empat di tengah tingginya ongkos material.

Lebih jauh, Valbury Sekuritas Indonesia memproyeksikan pertumbuhan penjualan kendaraan roda empat secara nasional akan tumbuh moderat di tengah pertumbuhan ekonomi yang yang stabil.

Penjualan pada semester II/2019 dinilai akan lebih meningkat karena permintaan yang akan lebih tinggi didorong oleh suku bunga yang lebih rendah, peluncuran model-model baru, dan kurs Rupiah yang lebih stabil.

Namun, industri penjualan mobil Astra masih harus menghadapi tantangan dari kompetitornya dengan kehadiran model Mitsubishi Xpander dan produsen asal China Wuling.

“Kendati deimikian, kami percaya bahwa ASII akan dapat mempertahankan market share lebih dari 50% sepanjang tahun yang didorong oleh penjualan New Rush dan Terios, serta facelifts Avanza dan Xenia,” sebutnya.

ekspor toyota

Selain sektor otomotif, Valbury juga menyoroti realisasi laba bersih dari sektor bisnis agribisnis ASII yang turun 94,4% dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya menjadi Rp35 miliar.

Hasil tersebut terhambat oleh harga rata-rata crude palm oil (CPO) yang turun 18% dari semester I/2018 menjadi Rp6.441 per kilogram.

Valbury Sekuritas Indonesia mempertahankan rekomendasi beli ASII dengan target harga berbasis discounted cash flow (DCF) Rp8.500 per saham.

Rekomendasi tersebut dilandasi keyakinan akan adanya peningkatan pertumbuhan ekonomi, model baru yang akan dikeluarkan, harga komoditas yang stabil, dan diversifikasi bisnis ke dalam infrastruktur dan digital, serta langkah investasi-investasi strategis yang dilakukan ASII.

“Namun kami mencatat ada beberapa risiko penurunan rekomendasi kami, yaitu persaingan yang ketat dalam industri otomotif, tingkat suku bunga yang lebih tinggi, serta harga komoditas yang lebih rendah dari perkiraan,” jelasnya.

Dalam riset yang terpisah, analis Bahana Sekuritas Anthony Yunus menuturkan bahwa melambatnya pertumbuhan ekonomi pada kuartal II/2019, menjadi indikasi awal bahwa konsumsi masyarakat tidak sekuat prediksi pasar.

Sejalan dengan kondisi itu, penjualan retail yang berkaitan dengan sektor konsumer termasuk penjualan kendaraan bermotor ikut menyusut.

Bahana Sekuritas memperkirakan, penjualan kendaraan bermotor baik roda empat maupun roda dua masih akan lemah karena kemampuan masyarakat untuk membeli mobil akan semakin terbatas. Di sisi lain, penjualan motor juga diperkirakan masih tumbuh single digit karena penetrasi motor yang sudah cukup tinggi.

Bahana memperkirakan volume penjualan kendaraan roda empat secara industri akan mencapai 1,082 juta unit pada akhir 2019, atau turun sebesar 6% dari realisasi penjualan sepanjang 2018. Penjualan kendaraan roda empat ASII diperkirakan turun sebesar 4,8% secara tahunan.

Penjualan kendaraan roda dua secara industri diperkirakan akan mencapai 7,088 juta unit sepanjang 2019, atau tumbuh sebesar 8% secara tahunan. Penjualan kendaraan roda dua Astra diperkirakan akan tumbuh sebesar 12% secara tahunan pada akhir 2019.

‘’Demi menggenjot penjualan mobil dan motor hingga akhir tahun ditengah-tengahnya turunnya permintaan, pemberian diskon yang lebih agressif akan terjadi pada semester kedua, ‘’ ujarnya dalam riset, baru-baru ini.

sekilas ASII

Pada kuartal II/2019, Anthony menuturkan Astra Internasional sebagai salah satu pemain otomotif terbesar di Indonesia mencatat volume penjualan dan margin dari kendaraan roda empat yang lebih rendah dari ekspektasi semula. Meski demikian, penurunannya tidak seburuk industri secara keseluruhan.

“Astra Internasional membukukan laba bersih pada kuartal II/2019 sebesar Rp4,6 triliun atau turun 5,59% akibat rendahnya penjualan dari sektor otomotif dan komoditas, khususnya CPO,” tulisnya.

Melihat pencapaian hingga kuartal II/2019, Bahana Sekuritas memangkas perkiraan pendapatan dan laba bersih perusahaan berkode saham ASII ini hingga akhir 2019.

Bahana memperkirakan pendapatan ASII akan mencapai Rp240,7 triliun pada akhir tahun ini, dari perkiraan semula sebesar Rp249,3 triliun. Pendapatan dari segmen otomotif diperkirakan akan mencapai Rp 104,7 trililiun, dari perkiraan semula sebesar Rp 106,8 triliun.

Laba bersih diperkirakan mencapai Rp20,7 triliun, dari perkiraan semula sebesar Rp23 triliun.

"Rekomendasi hold untuk saham ASII dari yang sebelumnya buy, dengan target harga Rp 7.500 dari yang sebelumnya 8.300 per saham," jelasnya.

Rekomendasi Terbaru Saham ASII
SekuritasRekomendasiHarga Saham (Rp)
Goldman Sachsbuy7.660
RHB Researchneutral6.950
Macquarieneutral8.000
J.P. Morganneutral6.700
HSBCbuy9.200
Bahana Securitieshold7.500
Morgan StanleyEqualwt/Attractive7.500
Credit Suisseneutral6.800
Valbury Asia Securitiesbuy8.500

Sumber: Bloomberg, per 20 Agustus 2019.

Berdasarkan kompilasi analis yang dihimpun Bloomberg, sebanyak 20 analis merekomendasikan beli, 10 analis merekomendasikan hold, dan 1 analis merekomendasikan sell. Konsensus harga ASII dalam 12 bulan ke depan ada di level Rp8.104,4 per saham.

Di tengah seretnya penjualan otomotif, masih tertarik koleksi ASII?

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
rekomendasi saham, astra international

Editor : Ana Noviani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top