Peso Argentina Anjlok, Mata Uang Negara Berkembang Ikut Terkoreksi

Berdasarkan data Bloomberg, pada penutupan perdagangan Senin (12/8/2019), peso Argentina anjlok 14,5% menjadi 53 peso per dolar AS. Penurunan tersebut berdampak terhadap mata uang pasar berkembang lainnya, dengan real yang terkoreksi 1,06%
Finna U. Ulfah
Finna U. Ulfah - Bisnis.com 13 Agustus 2019  |  13:56 WIB
Peso Argentina Anjlok, Mata Uang Negara Berkembang Ikut Terkoreksi
Mata uang Asia - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA - Dolar AS kembali menekuk nilai tukar mata uang pasar berkembang pada perdagangan Selasa (13/8/2019) dipicu oleh anjloknya peso Argentina akibat ketegangan politik dalam negerinya.

Berdasarkan data Bloomberg, pada penutupan perdagangan Senin (12/8/2019), peso Argentina anjlok 14,5% menjadi 53 peso per dolar AS. Penurunan tersebut berdampak terhadap mata uang pasar berkembang lainnya, dengan real yang terkoreksi 1,06%

Pada perdagangan Selasa (13/8/2019) hingga pukul 13.25 WIB, lira dan rand yang ikut terkoreksi pada perdagangan sebelumnya, berhasil berbalik menguat tipis 0,08% dan 0,05%

Di Asia, kinerja terlemah dipimpin oleh rupee dengan bergerak melemah 0,59%, kemudian diikuti oleh rupiah yang melemah 0,384% dan disusul oleh won yang melemah 0,34%.

Sementara itu, indeks dolar AS yang mengukur kekuatan greenback di hadapan sekeranjang mata uang mayor bergerak menguat 0,15% menjadi 97,528.

Profesor Ekonomi University of West of England Daniela Gabor mengatakan bahwa runtuhnya peso bisa membuat prospek ekonomi pasar berkembang semakin memburuk dan menjadi beban bagi pergerakan mata uangnya.

Pada tahun ini, lanjut Daniela, mata uang pasar berkembang telah terperangkap di antara dua sentimen yang sangat berbeda.

"Mata uang pasar berkembang dibayangi sentimen melambatnya permintaan global untuk komoditas yang mereka ekspor yang telah menekan pergerakkannya dan di sisi lain, terdapat proyeksi pemangkasan suku bunga AS yang mengurangi tekanan pegerakkan mata uang pasar berkembang,” ujar Daniela seperti dikutip dari Bloomberg, Selasa (13/8/2019).

Adapun, penurunan peso Argentina disebabkan oleh calon presiden Argentina Alberto Fernandez berhasil mendominasi hasil pemilihan pendahuluan dengan margin sekitar 15,5% lebih tinggi dibandingkan dengan calon petahana, Mauricio Macri. Jauh lebih tinggi dari perkiraan pasar.

Fernandez mengatakan akan berusaha untuk memperbaiki perjanjian Argentina dengan Dana Moneter Internasional (IMF) senilai US$57 miliar jika dia memenangkan pilpres pada Oktober mendatang.

Kendati demikian, investor melihat Fernandez sebagai prospek yang berisiko. Pasar khawatir atas potensi kembalinya Argentina pada ekonomi intervensionis dari pemerintah sebelumnya.

Akibat ketidakstabilan politik Argentina, Morgan Stanley pun kini menurunkan rekomendasi untuk utang dan ekuitas Argentina dari netral menjadi underweight serta memperkirakan bahwa peso Argentina bisa jatuh 20% lebih dalam.

Di sisi lain, sentimen tersebut berhasil membuat yen semakin banyak dilirik oleh investor. Hinga pukul 13.20 WIB, yen telah menguat 0,038% menjadi 105,26 yen per dolar AS.

Sebagai aset safe haven, yen kerap diburu investor di tengah kondisi meningkatnya kekhawatiran pasar dan ketidakpastian geopolitik.

Hampir sepanjang Agustus, pamor yen terdongkrak faktor-faktor seperti tensi perdagangan AS-China dan prospek pelonggaran moneter lebih lanjut oleh Federal Reserve AS.

Ahli Strategi Mata Uang Senior Daiwa Securities Yukio Ishizuki mengatakan bahwa aksi penghindaran risiko pada pasar yang disebabkan peristiwa di Hong Kong dan Argentina mendorong permintaan untuk yen. Spekulan telah meningkatkan posisi buy pada yen.

“Tidak ada tanda-tanda penguatan yen akan mereda. Target berikutnya adalah level tertinggi yen yang dicapai terhadap dolar AS pada awal Januari,” ujar Ishizuki seperti dikutip dari Reuters.

Adapun, yen telah menguat selama 4 hari perdagangan terakhir terhadap greenback. Sepanjang tahun berjalan yen telah menguat 4,2%.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kurs, mata uang asia

Editor : Ana Noviani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top