Pasar Obligasi Diproyeksi Melemah Tertekan 3 Sentimen Global

Pada perdagangan hari ini, pasar obligasi diperkirakan kembali melemah terbatas.
Duwi Setiya Ariyanti
Duwi Setiya Ariyanti - Bisnis.com 13 Agustus 2019  |  08:48 WIB
Pasar Obligasi Diproyeksi Melemah Tertekan 3 Sentimen Global
Ilustrasi - Bisnis.com

Bisnis.com, JAKARTA--Pasar obligasi diperkirakan melemah terbatas pada perdagangan hari ini, Selasa (13/8/2019). Berikut beberapa sentimennya.

Dikutip dari hasil risetnya, Selasa (13/8/2019), Direktur Riset Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus mengatakan pada perdagangan sebelumnya, yield surat utang negara (SUN) cenderung naik karena tertekan kekhawatiran terhadap tensi perang dagang AS-China. Potensi resesi AS yang meningkat pun menyulut aksi negatif dari investor. Kendati demikian, terdapat harapan dari lelang SUN yang digelar Pemerintah hari ini.

Pada perdagangan hari ini, Maximilianus memperkirakan pasar obligasi kembali melemah terbatas.

"Pagi ini pasar obligasi diperkirakan akan dibuka melemah dengan potensi melemah terbatas," ujarnya.

Menurutnya, keterbatasan pelemahan berasal dari lelang SUN hari ini. Alasannya, investor bisa berebut guna mendapat SUN yang diproyeksikan akan menjadi seri acuan tahun depan dengan harga murah dan yield cukup menarik.

Sentimen lain yang memicu pelemahan yakni, pertama, pernyataan Goldman Sachs Group tentang meningkatnya kekhawatiran resesi ekonomi AS akibat perang dagang. Goldman mengatakan bahwa, Bank Investasi di Amerika tidak lagi mengharapkan kesepakatan perdagangan sebelum pemilihan Presiden Amerika pada 2020.

Ancaman tarif yang bakal diberlakukan pada September pun menurunkan perkiraan pertumbuhan kuartal keempat sebesar 0,2 poin menjadi 1,8%. Dengan demikian, dibutuhkan kebijakan guna mengantisipasi kemungkinan buruk.

Kedua, kisruh di Hong Kong telah menunjukkan sisi pengunjuk rasa yang radikal dan menyerang polisi. Pemimpin Hong Kong, Carrie Lam tak merespons aksi ekstrem pengunjuk rasa dengan tetap mendapat dukungan dari Otoritas Beijing sehingga ekonomi global semakin tertekan akibat berlanjutnya aksi protes.

Ketiga, potensi default yang akan dialami Argentina akibat krisis keuangan. Kekalahan kandidat pertahana Mauricio Macri, mengakibatkan investor menjual instrumen mereka masing-masing baik saham, obligasi dan mata uang karena pesimistis terhadap kondisi ekonomi Argentina.

Pasalnya, Argentina memiliki utang dalam bentuk mata uang asing yang jatuh tempo dalam setahun ke depan. Di sisi lain, Credit Default Swap Argentina menunjukkan kemungkinan sebesar 75% bahwa Argentina akan menangguhkan pembayaran utang dalam lima tahun ke depan. Pasar saham utama Argentina turun 35%, dan mata uang turun 25% terhadap dolar AS setelah hasil pemilu diumumkan.

Dia pun merekomendasikan agar investor melakukan aksi jual hari ini. Menurutnya, sentimen dari Argentina dan Hong Kong juga perlu menjadi perhatian karena bisa memburuk sewaktu-waktu.

"Kami merekomendasikan jual hari ini. Tetap cermati sentimen dari Argentina dan Hong Kong karena apabila terus berlanjut cepat atau lambat hanya sebagai bom waktu saja," katanya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Obligasi

Editor : Ana Noviani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top