Pound Sterling Mampu Bertahan di Tengah Ketidakpastian Politik Inggris

Berdasarkan data Bloomberg, pada perdagangan Senin (12/8/2019) hingga pukul 16.20 WIB, pound sterling berhasil bergerak menguat 0,3% menjadi US$1,2069 per pound sterling.
Finna U. Ulfah
Finna U. Ulfah - Bisnis.com 12 Agustus 2019  |  17:25 WIB
Pound Sterling Mampu Bertahan di Tengah Ketidakpastian Politik Inggris
Pound sterling. - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA - Pound sterling terus berjuang untuk menahan dari penurunan lebih lanjut di tengah ketidakpastian politik dan pertumbuhan ekonomi Inggris yang terkontraksi.

Berdasarkan data Bloomberg, pada perdagangan Senin (12/8/2019) hingga pukul 16.20 WIB, pound sterling berhasil bergerak menguat 0,3% menjadi US$1,2069 per pound sterling.

Analis PT Bestprofit Futures Agus Prasetyo mengatakan bahwa pound sterling berhasil menggagalkan reli penurunannya hingga menembus ke bawah level psikologi US$1,2 per pound sterling, level rekor terendahnya dalam 2 tahun.

“Pound sterling tampak mampu menahan diri dari penurunan lebih lanjut seiring dengan pelaku pasar menunggu petunjuk baru dari perkembangan politik di Inggris dan negosisasi perdagangan AS-China,” ujar Agus kepada Bisnis.com, Senin (12/8/2019).

Kendati demikian, dia mengatakan bahwa sentimen negatif masih menyelimuti pergerakan pound sterling sehingga mata uang Negeri Ratu Elizabeth tersebut masih sangat rawan untuk bergerak turun tajam.

PDB Inggris kuartal II/2019 menunjukkan pertumbuhan negatif dengan dirilis terkontraksi 0,2%, menjadi kontraksi pertama sejak 2012 di tengah meningkatnya kekhawatiran atas konsekuensi ekonomi dari Brexit tanpa kesepakatan.

Selain itu, kisruh ketidakpastian politik Inggris dengan terdapatnya kemungkinan Jeremy Corbyn, partai oposisi, akan mengajukan mosi tidak percaya pada pemerintah yang kini dipimpin oleh Boris Johnson.

Beberapa tajuk berita terbaru pun menunjukkan bahwa politisi Inggris diam-diam berencana untuk membuat Perdana Menteri Boris Johnson digulingkan untuk menghentikan Brexit tanpa kesepakatan jika ia kalah dalam pemungutan suara tidak percaya awal September.

Agus memprediksi pound sterling masih berpotensi bergerak melemah dalam jangka pendek dan akan bergerak dengan level resisten US$1,2080 dan level support di US$1,2027 pada perdagangan Selasa (13/8/2019).

Sementara itu, Analis PT Monex Investindo Futures Ahmad mengatakan bahwa pound sterling berpotensi untuk bergerak turun menguji level US$1,194 per pound sterling di tengah perlambatan ekonomi Inggris dan potensi terjadinya Brexit tanpa kesepakatan.

“Pasangan GBP/USD berpotensi bergerak turun menguji level support di US$1,2000 per pound sterling, dan penembusan level tersebut berpeluang menekan GBP/USD bergerak turun menguji level support selanjutnya di US$1,1965 per pound sterling dan US$1,1940 per pound sterling,” ujar Ahmad seperti dikutip dari publikasi risetnya, Senin (12/8/2019).

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
pound sterling, mata uang

Editor : Ana Noviani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top