Perang Dagang Memanas, Porsi Asing di SBN Makin Gemuk

Hingga Jumat (2/8/2019), kepemilikan asing menembus Rp1.019 triliun atau 39,33% terhadap total outstanding surat berharga negara (SBN).
Duwi Setiya Ariyanti
Duwi Setiya Ariyanti - Bisnis.com 07 Agustus 2019  |  09:09 WIB
Perang Dagang Memanas, Porsi Asing di SBN Makin Gemuk
SURAT UTANG NEGARA

Bisnis.com, JAKARTA--Memanasnya perang dagang China-AS mengakibatkan imbal hasil Tresuri AS tenor 10 tahun menurun sehingga investor asing memburu surat utang di negara berkembang termasuk Indonesia dan berimbas pada naiknya kepemilikan investor asing.

Dalam hasil riset mingguannya, Rabu (7/8/2019), Head of Debt Research Danareksa Sekuritas, Amir A Dalimunthe mengatakan investor asing terus mencatatkan net buy terhadap obligasi Pemerintah.

Hingga Jumat (2/8/2019), kepemilikan asing menembus Rp1.019 triliun atau 39,33% terhadap total outstanding surat berharga negara (SBN). Angka ini, lebih tinggi Rp126 triliun dibandingkan dengan akhir tahun 2018 yaitu sebesar Rp893 triliun.

"Investor asing terus mencatatkan net buy terhadap obligasi Pemerintah Indonesia. Tercatat, per 2 Agustus 2019 kepemilikan asing mencapai Rp1.019 triliun, atau meningkat sebesar Rp5,98 triliun dibandingkan dengan penutupan minggu sebelumnya," ujarnya.

Sebagai gambaran, hingga akhir Juli 2019, dari total kebutuhan surat berharga Pemerintah neto pada 2019 sebesar Rp388,96 triliun, sebesar 67,99% atau sebesar Rp264,44 triliun telah terealisasi.

Sementara itu, dari total Rp825,70 triliun kebutuhan penerbitan gross pada 2019, Pemerintah telah mengumpulkan dana Rp620,82 triliun atau 75,19% dari target. Perinciannya, Rp433,54 triliun atau 69,83% di antaranya merupakan surat berharga konvensional dan Rp187,28 triliun atau 30,17% merupakan sukuk.

Kendati porsi asing cukup tinggi, masih ada potensi kenaikan porsi karena pada awal pekan ini tensi perang dagang China-AS kembali memanas.

Belum reda masalah rencana pengenaan tarif 10% terhadap barang asal China, terjadi depresiasi yuan sehingga memantik emosi AS dengan menyebut China sebagai manipulator mata uang.

Langkah China tersebut dianggap sebagai bentuk alasan Negara Tirai Bambu itu pascapernyataan pengenaan tarif. Akibat hal itu, imbal hasil Tresuri AS mengecil menjadi 1,75% atau turun 11 basis poin.

Penurunan tersebut semakin membuka peluang masuknya investor global ke surat utang negara berkembang termasuk Indonesia.

"Hal ini menyebabkan benchmark yield US Treasury 10-tahun jatuh lebih dalam sebesar 11 bps menjadi 1,75%."

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Obligasi, surat utang negara

Editor : Ana Noviani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top