Pasar Obligasi Dibuka Melemah, Berpotensi Rebound

Pelemahan harga SUN bakal berlanjut kendati pada obligasi tenor panjang yakni 10 tahun hingga 20 tahun penurunan harga mulai terhenti.
Duwi Setiya Ariyanti
Duwi Setiya Ariyanti - Bisnis.com 07 Agustus 2019  |  08:06 WIB
Pasar Obligasi Dibuka Melemah, Berpotensi Rebound
Ilustrasi - Bisnis.com

Bisnis.com, JAKARTA--Pasar obligasi diperkirakan dibuka melemah dan berpotensi rebound pada perdagangan hari ini, Rabu (7/8/2019) jika sentimen negatif minim.

Dikutip dari hasil riset hariannya, Rabu (7/8/2019), Direktur Riset Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus mengatakan pelemahan harga bakal berlanjut kendati pada obligasi tenor panjang yakni 10 tahun hingga 20 tahun penurunan harga mulai terhenti.

Hal itu, katanya, terjadi akibat intervensi Bank Indonesia pada pasar valas dan obligasi. Kelanjutan penurunan harga obligasi, menurutnya, berpotensi mereda bila tak ada sentimen negatif yang memengaruhi perdagangan hari ini.

"Pagi ini pasar obligasi akan dibuka melemah dengan potensi rebound," ujarnya.

Pada perdagangan hari ini, dia menyebut masalah perang dagang China-AS masih menjadi perhatian investor. Pernyataan AS tentang China sebagai manipulator mata uang menyulut semakin tingginya tensi hubungan keduanya di tengah perang dagang.

Bank Sentral China menyebut depresiasi yuan terhadap dolar AS terjadi akibat mekanisme pasar. Menurut Bank Sentral China kesepakatan dagang bukan diselesaikan dengan depresiasi mata uang. China berkukuh bahwa depresiasi mata uang sebagai hal yang normal kendati untuk menjaga kestabilan.

Sebagai imbasnya, perusahaan asing di China harus menanggung biaya produksi yang lebih tinggi. China kemungkinan bakal menanggung dampak negatif yang lebih berat bila terus membalas tekanan AS. Adapun, pertumbuhan ekonomi China sudah berada di titik terendah dalam kurun waktu 27 tahun.

Dengan mempertimbangkan hal itu, dia merekomendasikan agar investor melakukan wait and see dengan potensi beli.

"Kami merekomendasikan wait and see dengan potensi beli," katanya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Obligasi, surat utang negara

Editor : Ana Noviani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top