Bursa Asia Melemah di tengah Perang Dagang & Penantian Kebijakan The Fed

Saham-saham di Asia mencatatkan penurunan karena sebagian besar investor menunjukkan tanda-tanda bahwa mereka pesimistis dengan hasil dari perundingan dagang antara AS-China.
Nirmala Aninda
Nirmala Aninda - Bisnis.com 31 Juli 2019  |  14:13 WIB
Bursa Asia Melemah di tengah Perang Dagang & Penantian Kebijakan The Fed
bursa asia

Bisnis.com, JAKARTA -- Saham-saham di Asia mencatatkan penurunan karena sebagian besar investor menunjukkan tanda-tanda bahwa mereka pesimistis dengan hasil dari perundingan dagang antara AS-China.

Rendahnya optimisme investor turut didukung dengan sejumlah data pendapatan korporasi yang beberapa di antaranya menunjukkan penurunan menjelang pengumuman pemangkasan suku bunga acuan The Fed yang telah lama dinanti.

Dilansir melalui Bloomberg, ekuitas di Tokyo, Seoul dan Hong Kong terlihat mengalami kemunduran. Sementara saham China terdorong ke bawah setelah badan Partai Komunis, Politbiro, mengatakan bahwa pemerintah berupaya untuk tidak merilis stimulus pada pasar properti.

Di sisi lain, saham Samsung dilaporkan merosot menyusul penurunan tajam dalam laba perusahaan, sementara para traders mengabaikan prospek optimis untuk bisnis memori raksasa teknologi asal Korea Selatan tersebut.

Presiden Donald Trump menunjukkan nada negatif untuk sentimen pasar serta mengkritik China ketika negosiatornya tengah memulai babak baru perundingan dagang di Shanghai.

"Dolar sedikit berubah, mendekati level tertinggi dalam hampir dua bulan. Tresuri terlihat stagnan menjelang pertemuan The Fed," seperti dikutip melalui Bloomberg, Rabu (31/7).

Pekan ini akan menjadi waktu tersibuk bagi ekonomi dunia sepanjang tahun ini, tidak ada waktu libur musim panas bagi para investor atau pembuat kebijakan di tengah penantian langkah moneter The Fed, perundingan dagang, data pendapatan korporasi, hingga rilis data ketenagakerjaan AS.

Pernyataan Gubernur The Fed Jerome Powell yang akan disampaikan setelah pertemuan bulanan FOMC akan menjadi petunjuk yang sangat tentang jalur kebijakan moneter karena tanda-tanda perlambatan pertumbuhan memberi tekanan pada bank sentral di seluruh dunia.

Menurut, Paul Brain, Kepala Fixed Income di Newton Investment Management, pasar obligasi dan ekuitas telah sepenuhnya mengantisipasi pemangkasan suku bunga.

"...Mungkin akan ada beberapa yang kecewa terhadap besaran potongan dan kebijakan berikutnya. Namun, sesaat setelah kebijakan dilakukan mereka akan sadar bahwa suku bunga akan terus bergerak turun," tulis Brain dalam sebuah catatan.

Futures Nasdaq dilaporkan menguat setelah saham Apple melonjak lebih dari 4% di luar jam perdagangan, didorong oleh proyeksi pendapatan yang melampaui estimasi.

Di tempat lain, harga minyak terus naik menjelang penurunan suku bunga AS yang diantisipasi, sementara ketegangan dengan Iran mengancam untuk mencekik pasokan Timur Tengah. Dolar Australia naik setelah inflasi melampaui estimasi.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Bursa Asia, perang dagang AS vs China

Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top