Meski Dibatasi, Impor Batu Bara China dari Australia Meningkat

Data General Administration of Costums China menunjukkan, kedatangan batu bara kokas Negeri Kangguru ke Negeri Panda mencapai 2,82 juta ton bulan lalu, lebih dari dua kali lipat 1,38 juta ton pada Mei.
Dika Irawan
Dika Irawan - Bisnis.com 29 Juli 2019  |  16:49 WIB
Meski Dibatasi, Impor Batu Bara China dari Australia Meningkat
Petugas mengawasi proses penimbunan batu bara di Tambang Air Laya, Tanjung Enim, Sumatra Selatan, Minggu (3/3/2019). - Bisnis/Felix Jody Kinarwan

Bisnis.com, JAKARTA – Impor batu bara kokas, bahan baku pembuatan baja China dari Australia naik dua kali lipat pada Juni dibandingkan dengan bulan sebelumnya, kendati ada pembatasan di pelabuhan-pelabuhan China.

Data General Administration of Costums China menunjukkan, kedatangan batu bara kokas Negeri Kangguru ke Negeri Panda mencapai 2,82 juta ton bulan lalu, lebih dari dua kali lipat 1,38 juta ton pada Mei.

Namun, jumlah itu masih jauh di bawah 3,16 juta ton yang dilaporkan pada Juni tahun lalu, sebagian besar disebabkan oleh penundaan yang lama pada bea cukai China karena inspeksi.

Untuk paruh pertama 2019, China telah mengimpor 14,53 juta ton batu bara kokas dari Australia, naik 16,4% dari periode yang sama tahun lalu.

Sementara itu, bea cukai China sejak pertengahan Juli telah menghentikan izin deklarasi pada impor batu bara di beberapa pelabuhan. Termasuk Caofeidian dan pelabuhan Jingtang di Cina utara, salah satu titik impor batubara kokas terbesar di negara itu.

Pengguna akhir seperti pabrik kokas dan pabrik baja di wilayah tersebut melaporkan, mereka masih diperbolehkan untuk membawa beberapa batu bara kokas impor hanya, setelah menerima persetujuan bea cukai setempat untuk tiap kargo yang memasuki negara tersebut.

Harga batu bara kokas di Dalian telah naik 12% sejak awal tahun ini, mencapai puncak 1.438 yuan per ton pada pertengahan Juni.

Kepada Bisnis.com belum lama ini, Analis Asia Trade Futures Point Deddy Yusuf Siregar memproyeksikan, tren harga batu bara masih bearish dalam beberapa tahun mendatang, mengingat negara-negara di kawasan Amerika dan Eropa mulai beralih ke energi terbarukan, dan mereka meninggalkan batu bara.

“Dalam jangka panjang kondisi ini tidak baik. Saya nilai tahun ini dan ke depan batu bara sulit keluar dari tekanan,” katanya.

Dia mencatat, pada tahun lalu konsumsi batu bara mengambil porsi sebesar 27,2% dari seluruh konsumsi energi primer global. Menurutnya, batu bara berada di angka 30%, hal itu menunjukkan permintaan batu bara mulai melemah.

Selain tren penggunaan energi terbarukan, batu bara juga menghadapi sentimen negatif dari pelemahan ekonomi global. Situasi tersebut ditandai dengan melambatnya perekonomian China, yang juga konsumen batu bara terbesar di dunia.

Akibatnya, ketika perekonomian mereka mengalami perlambatan, maka berdampak pada berkurangnya permintaan terhadap batu bara.

Meskipun begitu, Deddy melihat masih ada harapan bagi batu bara untuk terus bertahan. Beberapa negara di kawasan Afrika dan Asia masih memiliki ketergantungan terhadap batu bara. Sementara itu, permintaan dari kawasan Eropa dan Amerika diperkirakan akan terus turun.

“China sedang memaksimalkan tambang mereka. Kebijakan China sendiri membatasi impor untuk memaksimalkan hal tersebut. Ke depan kalau masing-masing memenuhi komoditas sendiri, mungkin saja potensi batu bara semakin suram,” katanya.

PERMINTAAN BATU BARA DUNIA (juta ton ekuivalen batu bara/Mtce)

NEGARA

2000

2017

2023

Amerika Serikat

763

472

413

Eropa

451

323

280

Jepang & Korea

198

293

284

China

955

2.752

2.673

India

208

563

708

Asia Tenggara

45

186

259

 

Sumber: International Energy Agency  

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
baja, komoditas

Editor : Ana Noviani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top