Minyak Meluncur, Harga Batu Bara Masih Tertekan

Harga batu bara di bursa Newcastle masih tertekan dan mengakhiri perdagangan Rabu (24/7/2019) di zona merah.
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 25 Juli 2019  |  08:30 WIB
Minyak Meluncur, Harga Batu Bara Masih Tertekan
Aktivitas bongkar muat batu bara di salah satu tempat penampungan di Balikpapan, Kalimantan Timur, Rabu (3/10/2018). - ANTARA/Irwansyah Putra

Bisnis.com, JAKARTA – Harga batu bara di bursa Newcastle masih tertekan dan mengakhiri perdagangan Rabu (24/7/2019) di zona merah.

Berdasarkan data Bloomberg, harga batu bara di bursa ICE Newcastle untuk kontrak Agustus 2019 ditutup melemah 0,80 persen atau 0,60 poin di level US$74,85 per metrik ton dari level penutupan perdagangan sebelumnya.

Pada perdagangan Selasa (23/7/2019), harga batu bara kontrak Agustus turun tipis 0,07 persen atau 0,05 poin dan berakhir di level 75,45, penurunan hari kedua (lihat tabel).

Adapun harga batu bara Newcastle untuk kontrak yang lebih aktif September 2019 ditutup melemah 0,98 persen atau 0,75 poin di level 75,70 pada Rabu (24/7), setelah mampu naik 0,20 persen dan berakhir di posisi 76,45 pada hari sebelumnya.

Di bursa ICE Rotterdam, harga batu bara untuk kontrak teraktif Oktober 2019 ikut ditutup melemah 1,39 persen di level 63,75 pada Rabu, setelah mampu menguat sehari sebelumnya.

Sebaliknya, harga batu bara thermal untuk pengiriman September 2019 di Zhengzhou Commodity Exchange, masih bergerak positif dengan berakhir menguat 0,47 persen atau 2,8 poin di level 593,4 yuan per metrik ton pada Rabu, kenaikan hari keempat berturut-turut.

Menurut Everbright Futures, Zhang Xiaojin, peningkatan konsumsi batu bara harian baru-baru ini telah mendukung sentimen pasar.

“Namun mengingat melimpahnya pasokan, kenaikan harga lebih lanjut akan terbatas,” tambahnya dalam riset, seperti dikutip dari Bloomberg.

China Coal Transport and Distribution Association (CCTD) mengatakan, konsumsi batu bara harian dari enam pembangkit daya meningkat menjadi 664 ribu ton pada Selasa (23/7) dari 578 ribu ton sepekan lalu.

Sementara itu, menurut data Global Ports yang dihimpun Bloomberg, ekspor batu bara thermal dan metalurgi Australia meningkat menjadi 8,87 juta ton dalam sepekan hingga 19 Juli.

Impor batu bara China naik menjadi 4,78 juta ton dan impor Korea Selatan meningkat menjadi 2,81 juta ton. Di sisi lain, impor batu bara Jepang turun menjadi 2,34 juta ton dan impor India tergelincir menjadi 1,75 juta ton.

Minyak Meluncur

Harga minyak mentah membukukan penurunan terbesar dalam hampir satu pekan terakhir pada perdagangan Rabu (24/7/2019), akibat ketidakpastian atas kesehatan ekonomi global dan prospek peningkatan output Timur Tengah yang mengimbangi penurunan pasokan AS.

Minyak West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman September ditutup melemah 1,6 persen atau 0,89 poin di level US$55,88 per barel di New York Mercantile Exchange.

Adapun minyak mentah Brent untuk kontrak September ditutup melemah 0,65 poin di level US$63,18 per barel di ICE Futures Europe Exchange yang berbasis di London.

Dilansir Bloomberg, permintaan tampak goyah menyusul data manufaktur yang mengecewakan di AS dan Eropa.

Sementara itu, Kuwait mengatakan pihaknya bekerja sama dengan Arab Saudi untuk melanjutkan produksi minyak di wilayah netral yang telah ditutup selama setidaknya empat tahun terakhir. Belum ada rencana waktu yang jelas, namun hal ini berpotensi menambah output hingga 500.000 barel per hari.

“Kuwait dan Arab Saudi sedang melihat beberapa rencana ekspansi yang cukup signifikan," kata Ashley Petersen, seorang analis minyak di Stratas Advisors LLC di New York, seperti dikutip Bloomberg.

“Hal tersebut cukup untuk mempengaruhi pasar dan mengimbangi penurunan dari Venezuela dan Iran," lanjutnya.

Berita ekonomi yang lesu membantu menghapus kenaikan harga minyak di awal sesi yang dipicu oleh penurunan mingguan keenam secara berturut-turut dalam persediaan minyak mentah AS dan penurunan terbesar produksi dalam hampir dua tahun.

"Sepertinya pasar masih berkonsentrasi pada ketidakpastian ekonomi," ungkap Josh Graves, analis senior di RJO Futures di Chicago, dalam sebuah wawancara.

EIA melaporkan bahwa persediaan minyak domestik menurun 10,8 juta barel dalam penurunan mingguan keenam berturut-turut, sekaligus kontraksi terpanjang sejak Januari 2018. Produksi dari ladang minyak AS turun paling besar sejak Oktober 2017, sebagian besar karena dampak Badai Barry di Teluk Meksiko awal bulan ini.

Di sisi lain, prospek permintaan energi masih suram, dengan Dana Moneter Internasional memangkas proyeksi pertumbuhan global dan memperingatkan bahwa kebijakan perdagangan yang salah langkah dan masalah Brexit dapat menggagalkan rebound.

Pergerakan harga batu bara kontrak Agustus 2019 di bursa Newcastle

Tanggal

US$/MT

24 Juli

74,85

(-0,80 persen)

23 Juli

75,45

(-0,07 persen)

22 Juli

75,50

(-0,59 persen)

Sumber: Bloomberg

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Harga Minyak, harga batu bara

Editor : Mia Chitra Dinisari
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top