Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Prospek Permintaan Suram, Harga Karet Kembali Melar

Harga karet di Tokyo dan Shanghai tak mampu melanjutkan penguatannya dan berakhir turun pada perdagangan hari ini, Rabu (24/7/2019), .
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 24 Juli 2019  |  16:54 WIB
Ilustrasi - Bisnis.com
Ilustrasi - Bisnis.com

Bisnis.com, JAKARTA – Harga karet di Tokyo dan Shanghai tak mampu melanjutkan penguatannya dan berakhir turun pada perdagangan hari ini, Rabu (24/7/2019).

Berdasarkan data Bloomberg, harga karet untuk kontrak teraktif Desember 2019 di Tokyo Commodity Exchange (Tocom) ditutup melemah 0,48 persen atau 0,90 poin di level 186,10 yen per kg dari level penutupan sebelumnya.

Pada perdagangan Selasa (23/7), harga karet kontrak Desember 2019 mampu naik tajam 1,36 persen atau 2,50 poin dan berakhir di posisi 187 (lihat tabel).

Adapun harga karet kontrak September 2019 di Shanghai Futures Exchange hari ini berakhir melemah 0,75 persen atau 80 poin di level 10,650 yuan per ton, setelah ditutup menguat 0,85 persen di posisi 10,730 pada Selasa (23/7).

Harga karet tertekan akibat kekhawatiran seputar prospek lesunya permintaan dari para produsen ban yang dipicu penurunan penjualan otomotif.

Menurut Bloomberg Intelligence, pengiriman pabrikan mobil yang berbasis di China dapat menurun sebanyak 5 persen pada paruh kedua, meleset dari ekspektasi industri, di tengah konflik perdagangan Amerika Serikat-China.

“Target Michelin untuk 2020 berisiko karena perlambatan pasar,” papar Bloomberg Intelligence.

Sementara itu, Kyodo News melaporkan bahwa Nissan berencana memangkas setidaknya 5.200 pekerjaan tambahan secara global demi meningkatkan kinerjanya.

Dalam risetnya pekan lalu, ITG Futures, menerangkan bahwa prospek harga karet masih lesu karena meningkatnya pasokan karet mentah baik di pasar domestik maupun luar negeri.

“Harga [karet] diperkirakan akan tetap lemah karena jumlah persediaan yang tinggi pada produsen-produsen ban dan penjualan yang lambat di industri otomotif,” paparnya, dikutip dari Bloomberg.

Menambah beban karet, langkah pembatasan ekspor selama empat bulan oleh produsen karet di Indonesia dan Malaysia akan berakhir pada akhir Juli, sementara Thailand akan berakhir pada September.

Produksi karet ketiga negara ini diketahui berkontribusi untuk dua pertiga dari produksi karet alam global.

Berbanding terbalik dengan karet, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman September 2019 terpantau lanjut menguat 0,33 persen atau 0,19 poin ke level US$56,96 per barel pada pukul 15.17 WIB, menuju reli hari keempat.

Adapun harga minyak acuan global Brent untuk kontrak September 2019 bertambah 0,11 persen atau 0,07 poin ke level US$63,90 per barel, setelah berakhir menanjak 0,90 persen atau 0,57 poin di posisi 63,83 pada Selasa (23/7/2019).

Pergerakan Harga Karet Kontrak Desember 2019 di Tocom

Tanggal         Harga (Yen/kg)           Perubahan (persen)
24/7/2019186,10-0,48
23/7/2019187,00+1,36
22/7/2019184,50-0,32

Sumber: Bloomberg


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

harga karet
Editor : Mia Chitra Dinisari

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top