Semester I/2019, Penjualan Indocement Turun Tipis

Direktur dan Sekretaris Perusahaan Indocement Tunggal Prakarsa Antonius Marcos mengatakan bahwa sepanjang periode semester I/2019 volume penjualan semen perseroan tercatat mencapai hampir 7,9 juta ton, turun 1,26% dibandingkan dengan penjualan tahun sebelumnya sebanyak 8 juta ton.
Muhammad Ridwan
Muhammad Ridwan - Bisnis.com 22 Juli 2019  |  15:03 WIB
Semester I/2019, Penjualan Indocement Turun Tipis
Pekerja melakukan aktivitas bongkar muat semen di Pelabuhan Sunda Kelapa, Jakarta, Senin (4/9). - JIBI/Felix Jody Kinarwan

Bisnis.com, JAKARTA – Penjualan semen PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk. sepanjang semester I/2019 tercatat melemah dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

Direktur dan Sekretaris Perusahaan Indocement Tunggal Prakarsa Antonius Marcos mengatakan bahwa sepanjang periode semester I/2019 volume penjualan semen perseroan tercatat mencapai hampir 7,9 juta ton, turun 1,26 persen dibandingkan dengan penjualan tahun sebelumnya sebanyak 8 juta ton.

Faktor cuaca dan hari libur sepanjang semester I/2019 mempengaruhi kinerja penjualan perseroan, sehingga pada periode tersebut penjualan semen cenderung melemah.

“Kami berharap Juli dan seterusnya konsumsi semen nasional terus membaik seiring dengan telah terbentuknya pemerintahan baru dan terus melanjutkan program pemerintah untuk menyelesaikan proyek-proyek infrastruktur,” ujarnya kepada Bisnis baru-baru ini.

Sementara itu, pada Juni 2019, pencapaian volume penjualan semen emiten berkode saham INTP tersebut sebanyak 1 juta ton. Catatan tersebut lebih tinggi 20 persen dibandingkan dengan 2018.

Antonius menjelaskan bawah peningkatan tersebut lebih disebabkan oleh penetapan Hari Raya Idulfitri yang berbeda dengan tahun lalu.

“Tahun ini Lebaran jatuh di minggu pertama Juni, sehingga pada minggu kedua kegiatan ekonomi sudah kembali bergerak,” katanya.

Adapun, pada tahun ini perseroan masih melihat kondisi pasar terkait penetapan harga jual semen di dalam negeri.

Menurutnya, perseroan masih menunggua perkembangan situasi ke depannya dan juga kondisi di masing-masing area. “Dengan kondisi over supply saat ini tentunya kami tidak dapat berharap banyak dari potensi kenaikan ASP [average selling price].”

Di sisi lain, untuk komponen produksi seperti batu bara, perseroan belum dapat memprediksi tren ke depannya.

Menurutnya, tren batu bara dalam negeri akan mengikuti perkembangan harga batu bara dunia. “Tentunya kami berharap trennya ke arah yang positif yaitu tidak lagi terjadi kenaikan.”

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
indocement

Editor : M. Taufikul Basari
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top