Setelah Lampaui US$1.450, Emas Tergerus Aksi Jual

Berdasarkan data Bloomberg, pada perdagangan Jumat (19/7/2019) hingga pukul 16.00 WIB, harga emas di pasar spot melemah 0,48% menjadi US$1.439,21 per troy ounce.
Finna U. Ulfah
Finna U. Ulfah - Bisnis.com 19 Juli 2019  |  17:35 WIB

Bisnis.com, JAKARTA – Emas kembali melemah pada perdagangan Jumat (19/7/2019) akibat aksi ambil untung oleh investor setelah emas sempat melampaui level tertinggi US$1.450 per troy ounce untuk pertama kalinya sejak 6 tahun lalu.

Berdasarkan data Bloomberg, pada perdagangan Jumat (19/7/2019) hingga pukul 16.00 WIB, harga emas di pasar spot melemah 0,48% menjadi US$1.439,21 per troy ounce. Sementara itu, harga emas berjangka di bursa Comex masih bergerak menguat 0,92% menjadi US$1.441 per troy ounce.

Padahal, pada pertengahan perdagangan, emas sempat melampaui level tertingginya sejak 6 tahun terakhir di level US$1.450 per troy ounce.

Analis PT Maxco Futures Suluh Adil Wicaksono menilai harga emas yang terkoreksi tersebut masih wajar. Dia mengatakan, meski secara teknikal emas tampak overbought, tetapi dalam sisi fundamental emas memiliki posisi strong bullish.

Oleh karena itu, dia menilai ketika emas mengalami penurunan maka pergerakkannya akan terbatas dan hal tersebut sesungguhnya hanya akan menjadi sinyal bahwa emas bersiap untuk kembali naik lebih tinggi.

“Tujuan emas semakin jelas, yaitu menuju US$1.500 per troy ounce dan level psikologis tersebut belum tembus. Kalau saya lihat hanya akan terjadi pada dua kemungkinan. Level tersebut tercapai lebih cepat atau terjadi di akhir tahun,” papar Suluh kepada Bisnis.com, Jumat (19/7/2019).

Sepanjang pekan depan, Suluh memprediksi emas akan bergerak di level US$1.400 per troy ounce hingga US$1.475 per troy ounce.

Sementara itu, penguatan tajam juga terjadi pada pergerakan emas batangan PT Aneka Tambang Tbk (Antam). Pada perdagangan Jumat (19.7), emas antam naik Rp9.000 menjadi Rp714.000 per gram.

Suluh memprediksi emas Antam sepanjang pekan depan akan bergerak di kisaran Rp715.000 per gram hingga Rp720.000 per gram.

Managing Partner Vanguard Markets Stephen Innes mengatakan bahwa pergerakan emas bergantung pada investor melihat komentar Presiden The Fed New York John Williams Kamis (18/7) malam.

Pada konferensi bank sentral tersebut, John Williams mengatakan bahwa para pembuatan kebijakan perlu menambahkan stimulus lebih awal untuk mengahadapi inflasi yang lebih rendah ketika ekonomi secara keseluruhan melambat.

Komentar tersebut menambahkan harapan pasar bahwa The Fed akan memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan akhir bulan ini dan juga memicu ekspektasi pemangkasan hingga 50 basis poin.

“Emas telah diperdagangan di atas US$1.400 per troy ounce, dan kami tidak melihat emas akan kembali ke US$1.360 per troy ounce hingga US$1.375 per troy ounce. Ekspektasi kami emas akan terus bergerak lebih tinggi,” ujar Stephen Innes seperti dikutip dari Reuters, Jumat (19/7/2019).

Adapun, setelah komentar John Williams, dolar telah jatuh ke level terendah dalam dua pekan terakhir. Saat ini, indeks dolar AS yang mengukur kekuatan greenback di hadapan sekeranjang mata uang mayor lainnya bergerak menguat 0,16% menjadi 96,946.

Selain itu, ketegangan geopolitik di Timur Tengah juga membantu meningkatkan daya tarik safe haven. Presiden AS Donald Trump mengatakan bahwa pihaknya telah menembak jatuh pesawat tanpa awak Iran sehingga memanaskan ketegangan antara AS dan Iran.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Harga Emas Hari Ini, logam mulia

Editor : Ana Noviani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top