REKOMENDASI SAHAM: Pilah-Pilih Saham BUMN Karya

Indeks properti, real estat, dan konstruksi mencetak kinerja 10,67% secara year-to-date per 18 Juli 2019 hanya berada di bawah sektor indeks infrastruktur, utilitas, dan transportasi yang tumbuh 15,91% dan indeks sektor keuangan yang menguat 12,01%.
Dwi Nicken Tari
Dwi Nicken Tari - Bisnis.com 19 Juli 2019  |  08:02 WIB
REKOMENDASI SAHAM: Pilah-Pilih Saham BUMN Karya
Pekerja melintasi layar monitor bursa saham di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Selasa (16/4/2019)./ANTARA FOTO - Aditya Pradana Putra

Bisnis.com, JAKARTA - Sepanjang tahun berjalan 2019, empat saham BUMN karya kompak berada di zona hijau. Saham mana yang masih menarik untuk dikoleksi investor?

Indeks properti, real estat, dan konstruksi mencetak kinerja 10,67% secara year-to-date per 18 Juli 2019 hanya berada di bawah sektor indeks infrastruktur, utilitas, dan transportasi yang tumbuh 15,91% dan indeks sektor keuangan yang menguat 12,01%.

Terpantau saham empat emiten BUMN karya, PT Wijaya Karya Tbk. (WIKA) telah melonjak 48,6% secara ytd, PT PP (Persero) Tbk. (PTPP) menguat 21,88%, dan PT Waskita Karya ( Persero) Tbk. (WSKT) melesat 27,38%. Hanya PT Adhi Karya (Persero) Tbk. (ADHI) yang masih tumbuh single digit sebesar 2,5%.

Analis Samuel Sekuritas Selvi Oktaviani menjelaskan, sebanyak 3 saham dari 4 kontraktor besar Badan Usaha Milik Negara (BUMN) harganya sudah melejit sejak awal tahun.

“Kami perkirakan terpilihnya kembali Pak Jokowi dan visi Indonesia Maju 2019–2024 yang masih fokus pada infrastruktur mendukung kenaikan saham konstruksi,” kata Selvi kepada Bisnis.com, Kamis (18/7/2019).

Adapun membuka awal pekan ini, saham-saham BUMN Karya memang kompak menghijau sehari setelah Presiden Joko Widodo menyampaikan visi Indonesia Maju 2019—2024.

Untuk masa jabatan periode keduanya, Presiden Jokowi menyampaikan pidato pertama sebagai presiden terpilih. Dia memaparkan lima tahapan besar salah satunya melanjutkan pembangunan infrastruktur.

Selain itu, Selvi menambahkan, penurunan suku bunga acuan BI 7-Day Reserve Repo Rate (BI-7DRRR) ke level 5,75% pada Kamis (18/7/2019) juga dinilai dapat menjadi katalis positif.

Pasalnya, suku bunga diperkirakan masih berpeluang untuk diturunkan kembali sehingga membuat pendanaan emiten konstruksi menjadi lebih murah.

“Sehingga menjadi katalis positif bagi emiten konstruksi yang mengandalkan pinjaman bank/penerbitan surat utang untuk pendanaan proyek,” tutur Selvi.

Dari Samuel Sekuritas, Selvi memilih WIKA sebagai top picks dari saham emiten konstruksi kendati kenaikan harganya sudah tinggi.

“WIKA kami prediksi berpeluang dapat memenangkan kembali proyek besar seperti MRT Fase II dan LRT Fase II,” ujarnya.

Kemudian untuk tahun ini, perkembangan proyek kereta cepat Jakarta—Bandung yang diperkirakan mencapai 60% akan berkontribusi ke pendapatan perseroan hingga Rp 8 triliun.

Realisasi Kontrak Baru dan Kinerja Saham BUMN Karya

Kode SahamEmitenNilai Kontrak Baru Semester I/2019Target 2019Kinerja Saham (YTD per 18 Juli 2019)
WIKAPT Wijaya Karya (Persero) Tbk.Rp14,7 triliunRp61,74 triliun48,64%
PTPPPT PP (Persero) Tbk.Rp14,8 triliunRp50,3 triliun21,88%
ADHIPT Adhi Karya (Persero) Tbk.Rp5,4 triliunRp30 triliun2,52%
WSKTPT Waskita Karya (Persero) Tbk.Rp7,2 triliun*Rp56 triliun27,38%

Sumber: Pemberitaan, Bloomberg, diolah.

*per Mei 2019

Analis MNC Sekuritas Rudi Suthong menambahkan, selain faktor makro, saat ini sektor konstruksi sebenarnya belum memiliki katalis yang sangat kuat. Adapun beberapa emiten konstruksi saat ini masih fokus untuk memperbaiki cashflow, seperti WSKT yang melakukan divestasi jalan tol.

“Sementara pemerintahan yang baru juga baru akan terbentuk pada Oktober 2019 dan APBN pun pada 2019 lebih fokus pada pengembangan SDM,” kata Rudi.

Menurutnya, terbentuknya kabinet baru nanti belum akan mempengaruhi laju saham emiten kosntruksi. Pemerintah dinilai masih akan melakukan beberapa bargaining politik terlebih dulu, yang mana dampaknya baru akan terlihat pada 2020.

Adapun, Rudi menilai untuk saat ini harga saham sektor konstruksi sudah ada beberapa yang price in. Namun, dirinya merekomendasikan saham PTPP untuk dicermati investor hingga level Rp2.490.

“PTPP saya pikir masih bisa bertumbuh karena memang dia baru saja mendapatkan projek tol bersama WIKA. Lalu, jika nanti realisasi dari pemindahan ibukota berjalan, maka saya pikir PTPP memiliki peran di situ,” kata Rudi.

Sementara, saat ini rasio utang terhadap ekuitas (debt to equity ratio/DER) dari PTPP juga masih cukup rendah dibandingkan perusahaan konstruksi lain yang membuat perseroan masih memiliki ruang untuk menambahkan pendanaan kembali.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
investasi, rekomendasi saham

Editor : Ana Noviani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top