Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Indo Tambangraya Megah (ITMG) Optimistis Capai Target Penjualan 26,5 Juta Ton

Pada 2019, PT Indo Tambangraya Megah Tbk. menargetkan volume produksi baru bara sebanyak 23,6 juta ton dan penjualan 26,5 juta ton.
 PT Indo Tambangraya Megah Tbk/Istimewa
PT Indo Tambangraya Megah Tbk/Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA— Emiten produsen batu bara, PT Indo Tambangraya Megah Tbk. mengklaim realisasi volume penjualan dan produksi perseroan masih sejalan dengan target sampai dengan semester I/2019.

Direktur Hubungan Investor Yulius Gozali menuturkan saat ini pihaknya masih melakukan penghitungan kinerja semester I/2019. Namun, pihaknya mengklaim volume produksi sejalan dengan target 23,6 juta ton pada 2019.

Selanjutnya, Yulius juga mengungkapkan hal serupa untuk volume penjualan.

“Volume penjualan sejalan dengan target tahun ini yakni 26,5 juta ton,” ujarnya kepada Bisnis.com, Rabu (17/7/2019).

Emiten berkode saham ITMG itu membukukan pendapatan US$453,02 juta pada kuartal I/2019. Realisasi itu naik 19,77% dari US$378,24 pada kuartal I/2018.

Akan tetapi, beban pokok pendapatan perseroan tercatat naik lebih tinggi secara tahunan pada kuartal I/2019. Jumlah yang dikeluarkan ITMG naik 34,51% dari US$267,19 juta pada kuartal I/2018 menjadi US$359,41 juta per akhir Maret 2019.

Kenaikan juga terjadi di sisi beban penjualan perseroan. Pos pengeluaran itu melejit 69,53% dari US$17,56 juta pada kuartal I/2018 menjadi US$29,77 juta pada kuartal I/2019.

Dengan demikian, ITMG membukukan laba bersih US$39,74 juta per 31 Maret 2019. Pencapaian itu turun 31,64% dibandingkan dengan US$58,13 juta pada kuartal I/2018.

Manajemen ITMG sebelumnya menjelaskan bahwa permintaan batu bara pada kuartal I/2019 melemah dari biasanya. Kondisi itu menurutnya akibat cuaca dan perlambatan ekonomi.

Dari sisi pasokan, curah hujan yang rendah di Indonesia memicu produksi batu bara yang tinggi. Akibatnya, harga batu bara turun secara global.

Perseroan menyebut penurunan laba bersih karena harga jual batu bara yang turun 15% menjadi US$71,1 per ton pada kuartal I/2019 serta kenaikan biaya akibat nisbah kupas atau stripping ratio.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Editor : Ana Noviani
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper