2 Sekuritas Asing Hentikan Bisnis Brokerage Saham, Ini Kata APEI

Dua perusahaan sekuritas joint venture dikabarkan menghentikan bisnis layanan perantara perdagangan efek (brokerage). Mereka ialah PT Deutsche Verdhana Sekuritas Indonesia dan PT Merrill Lynch Sekuritas Indonesia.
Dwi Nicken Tari
Dwi Nicken Tari - Bisnis.com 17 Juli 2019  |  18:45 WIB
2 Sekuritas Asing Hentikan Bisnis Brokerage Saham, Ini Kata APEI
Karyawan dan pelaku usaha berada di dekat monitor pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (16/3/2018). - ANTARA/Sigid Kurniawan

Bisnis.com, JAKARTA - Dua perusahaan sekuritas joint venture dikabarkan menghentikan bisnis layanan perantara perdagangan efek (brokerage). Mereka ialah PT Deutsche Verdhana Sekuritas Indonesia dan PT Merrill Lynch Sekuritas Indonesia.

Langkah PT Deutsche Verdhana Sekuritas Indonesia (DB) untuk menghentikan bisnis brokerage sekaligus mengunduran diri dari Anggota Bursa (AB) kepada Bursa Efek Indonesia dilakukan seiring dengan langkah restrukturisasi besar-besaran dari Deutsche Bank Group.

Baru-baru ini, PT Merrill Lynch Sekuritas Indonesia (ML) juga dikabarkan mengikuti langkah entitas anak perbankan asal Jerman tadi.

Kendati BEI belum menyampaikan informasi lebih lanjut terkait pengunduran diri Merril Lynch Sekuritas sebagai AB, terpantau melalui Bloomberg bahwa perusahaan sekuritas yang dimiliki oleh Merrill Lynch International Inc. tersebut tak lagi melakukan transaksi efek sejak Kamis (11/7/2019).

Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Efek Indonesia (APEI) Octavianus Budiyanto menilai, hengkangnya dua perusahaan efek asing dari bisnis perantara perdagangan efek di Indonesia harus dapat dimanfaatkan oleh broker lokal.

“Justru ini menjadi kesempatan [broker] lokal, kita manfaatkan. [Broker] yang lokal harus pintar-pintar memberikan insentif lebih supaya dana asing itu masuk di mereka,” kata Ocky yang juga adalah Difrektur Utama PT Kresna Sekuritas kepada Bisnis.com, Rabu (17/7/2019).

Menurut Ocky, keluarnya dua perusahaan efek global dari pasar ekuitas tanah air tersebut merupakan hal biasa. Pasalnya, hal ini bukan terjadi untuk pertama kali. Ketika perusahaan merasa bisnisnya kurang efisien, pilihan untuk menutup salah satu lini bisnisnya tak dapat terhindarkan.

Lagipula, dengan perkembangan teknologi, kata Ocky, sudah memungkinkan bagi broker internasional untuk tidak memiliki kantor offline di suatu negara. Penggunaan algoritma dan robotik dalam sistem perdagangan efek pun bisa membuka pintu bagi investor asing untuk melakukan transaksi di BEI.

Dengan demikian, Ocky menegaskan, keluarnya broker asing tersebut bukan berarti menunjukkan bahwa iklim bisnis broker di dalam negeri menjadi mendung.

Perlu diketahui bahwa BEI masih menarik karena merupakan salah satu pasar modal yang memberikan return terbaik di dunia selama beberapa tahun terakhir.

Indeks harga saham gabungan (IHSG) selama sedekade terakhir bahkan tumbuh fantasits sebesar 203,59%, jauh dibandingkan dengan pertumbuhan indeks SET Index (SETi) milik Thailand yang naik 187,33% maupun VN-Index milik Vietnam yang menguat 129,83% pada periode yang sama.

“Jangan lupa, BEI ini merupakan salah satu yang memberikan return terbaik di dunia dalam beberapa tahun terakhir. Jadi, menurut saya tetap menarik karena upside-nya masih tingg,” imbuh Ocky.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
bei, sekuritas

Editor : Ana Noviani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top