Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Harga Dasar Ekspor Kakao Pantai Gading dan Ghana Ditolak Produsen Cokelat

Pantai Gading dan Ghana, produsen terbesar kakao global, Rabu (3/7/2019) waktu setempat, gagal mencapai kesepakatan dengan industri cokelat mengenai harga dasar baru untuk ekspor komoditas tersebut.
Dika Irawan
Dika Irawan - Bisnis.com 04 Juli 2019  |  20:57 WIB
Harga Dasar Ekspor Kakao Pantai Gading dan Ghana Ditolak Produsen Cokelat
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Pantai Gading dan Ghana, produsen terbesar kakao global, Rabu (3/7/2019) waktu setempat, gagal mencapai kesepakatan dengan industri cokelat mengenai harga dasar baru untuk ekspor komoditas tersebut.

Bulan lalu, kedua negara itu berkomitmen akan menetapkan harga minimum kakao US$2.600 per ton (free-on-board) yang harus dibayar oleh perusahaan cokelat dari musim panen 2020/2021, jika mereka ingin mengakses lebih dari 60% bagian dari pasokan global.

Regulator kakao dari kedua negara bertemu dengan perwakilan industri di ibu kota Pantai Gading, Abidjan untuk membahas rincian rencana tersebut. Sementara itu perusahaan cokelat yang hadir antara lain Hershey, Mars Inc., Blommer Chocolate, Cemoi, SucDen, Mondelez International, Touton, Barry Callebaut, Cargill, Olam International, dan Ecom Trading.

Harga dasar dimaksudkan untuk meringankan beban penderitaan petani yang telah menjadi dampak buruk pada citra cokelat, serta ancaman bagi masa depan sektor ini di Afrika Barat.

Pembuat makanan AS Mars Inc. sebelumnya mengatakan, mereka mendukung inisiatif tersebut. “Kami mendukung langkah pemerintah untuk melakukan intervensi untuk mencapai harga yang lebih tinggi yang mengarah pada peningkatan berkelanjutan yang dibayarkan kepada petani,” John Ament, Wakil Presiden Global Kakao untuk Mars, mengatakan kepada Reuters dikutip Kamis (4/7/2019).

Akan tetapi, setelah pertemuan itu, para pejabat perusahaan mengatakan, mereka belum menemukan kata sepakat terkait perjanjian tersebut, karena berpotensi menempatkan semua risiko dalam kasus penurunan harga yang besar.

“Mekanisme yang diusulkan oleh Ghana dan Pantai Gading kepada kita masih kurang jelas dan presisi untuk penerapannya yang memadai, sehingga perlu ada lebih banyak pertemuan,” kata seorang pejabat perusahaan yang meminta tidak disebutkan namanya.

Joseph Boahen Aidoo, CEO Cocobod regulator Ghana, mengatakan pada konferensi pers, perusahaan-perusahaan cokelat tidak berkewajiban untuk menerima, karena hal itu adalah pasar bebas. "Jika mereka tidak ingin membayar harga yang kami usulkan, mereka bisa pergi ke tempat lain."

Harga dasar bukanlah upaya pertama untuk memerangi kemiskinan petani. Pantai Gading dan Ghana juga telah mengenalkan program skema sertifikasi pihak ketiga, program keberlanjutan perusahaan, dan harga minimum yang dijamin pemerintah.

Namun, survei Fairtrade International tahun lalu menemukan bahwa hanya 12% rumah tangga petani kakao Pantai Gading yang menghasilkan US$2,50 per orang per hari, tingkat yang dihitung sebagai tolok ukur pendapatan hidup.    

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

kakao
Editor : Mia Chitra Dinisari
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top