Optimisme Berakhirnya Perang Dagang AS-China Redam Penguatan Yen

Yen berbalik melemah terhadap dolar AS pada perdagangan Kamis (27/6/2019) seiring dengan meredanya kekhawatiran pasar terkait dengan sengketa perdagangan AS dan China, walaupun investor tampak cenderung berhati-hati menjelang pertemuan Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping pada akhir pekan ini.
Finna U. Ulfah
Finna U. Ulfah - Bisnis.com 27 Juni 2019  |  15:09 WIB
Optimisme Berakhirnya Perang Dagang AS-China Redam Penguatan Yen
Mata uang Yen Jepang - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA - Yen berbalik melemah terhadap dolar AS pada perdagangan Kamis (27/6/2019) seiring dengan meredanya kekhawatiran pasar terkait dengan sengketa perdagangan AS dan China, walaupun investor tampak cenderung berhati-hati menjelang pertemuan Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping pada akhir pekan ini.

Berdasarkan data Bloomberg, pada perdagangan Kamis (27/6/2019) hingga pukul 14.29 WIB, dolar AS bergerak naik ke level tertingginya melawan yen dalam satu pekan terakhir dengan menguat 0,167% menjadi 107,97 yen per dolar AS.

Pada perdagangan Rabu (26/6/2019), yen, sebuah aset investasi aman yang sering kali dianggap menarik pada saat terjadi ketegangan geopolitik, telah melemah secara signifikan terhadap dolar AS akibat komentar Menteri Keuangan AS Steven Mnuchin tentang kesepakatan perdagangan AS dan China yang dinilai hampir 90% rampung.

Saat ini, investor tengah fokus menanti pertemuan Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping di sela-sela KTT G20 di Jepang pada akhir pekan ini. Investor berharap pertemuan tersebut dapat membuka jalan untuk menyelesaikan sengketa perdagangan antara dua negera dengan ekonomi terbesar di dunia tersebut.

Kepala Mata Uang dan Ahli Strategi Obligasi Luar Negeri SMBC Nikko Securities Makoto Noji mengatakan bahwa di tengah pasar yang mudah berayun pada berita utama AS dan China, tetapi fokus nyata sesungguhnya adalah pertumbuhan ekonomi China yang rendah dan dampaknya terhadap pasar.

"Jika hubungan AS dan China menunjukkan peningkatan di pertemuan G20, maka pemerintah China kemungkinan tidak akan lagi terburu-buru menerapkan langkah stimulus untuk ekonominya," ujar Makoto seperti dikutip dari Reuters, Kamis (27/6/2019).

Pelemahan yen terhadap dolar AS sesungguhnya terjadi di tengah reli penguatan yen dalam beberapa perdagangan terakhir. Target nilai tukar yen untuk menuju 100 yen per dolar AS, yang dalam 2 tahun terakhir tampak sulit ditembus, dinilai investor semakin besar potensinya untuk akhirnya dapat dicapai.

Pada pertengahan Mei, eskalasi perang dagang AS dan China telah membantu yen untuk menguat di level 110 yen per dolas AS. Kemudian, level resisten 108,5 yen per dolar AS berhasil ditembus akhir bulan lalu ketika Presiden AS Donald Trump mengancam akan mengenakan tarif impor 5% pada produk Meksiko.

Ambang batas 105 yen per dolar AS pun sempat terlihat semakin rentan ketika ketegangan AS dan Iran memburuk dan investor menunggu hasil pertemuan AS-China.

Kepala Ekonom Pasar Mizuho Bank Tokyo Daisuke Karakama mengatakan bahwa sebagian besar sentimen yang keluar sepanjang pekan terakhir merupakan katalis positif untuk mendorong yen menuju 100 yen per dolar AS.

"Risiko geopolitik di Timur Tengah sangat membantu yen, jika perang pecah dalam kasus terburuk, sentimen tersebut akan mendorong dolar bergerak lebih rendah," papar Daisuke seperti dikutip dari Bloomberg, Kamis (27/6/2019).

Adapun, saat ini indeks dolar AS yang mengukur kekuatan greenback di hadapan sekeranjang mata uang mayor bergerak menguat 0,04% menjadi 96,254 setelah sempat melemah ke level terendahnya dalam 3 bulan terakhir di 95,843 pada awal pekan ini.

Kepala Riset Pasar Jepang JPMorgan Chase & Co Tohru Sasaki mengatakan bahwa agar yen dapat menguat hingga 100 yen per dolar AS, imbal hasil Treasury AS perlu memperpanjang penurunannya dan Bank Sentral Jepang pun harus memangkas suku bunga lebih lanjut menjadi -0,2%.

"Sedangkan untuk imbal hasil Treasury AS dengan tenor 10 tahun perlu turun, sekitar 1% agar yen dapat menyentuh 100 yen per dolar AS," ujar Tohru.

Jika yen dapat menguat di atas 105 yen per dolar AS, level resisten berikutnya kemungkinan akan menjadi 104,87 yen per dolar AS, level tertinggi yang sempat disentuh pada Januari 2019, yang kemudian akan berlanjut di level psikologis 103 yen per dolar AS.

Analis PT Monex Investindo Futures Ahmad mengatakan bahwa pada pergerakannya saat ini , yen masih memiliki kesempatan untuk bergerak menguat menguji level support di 107,3 yen per dolar AS hingga 107 yen per dolar AS.

"Hal tersebut dikarenakan adanya potensi minat pelaku pasar yang meningkat terhadap aset investasi aman seiring dengan ketegangan di Timur Tengah. Sementara itu, level resisten yen berada pada kisaran 108 yen per dolar AS hingga 108,2 yen per dolar AS," papar Ahmad seperti dikutip dari publikasi risetnya, Kamis (27/6/2019). 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
jepang, yen, mata uang jepang

Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top