Permintaan di Asia Timur Lemah, Harga Gas Alam Turun

Berdasarkan data Bloomberg, hingga pukul 16.27 WIB, harga gas alam kontrak pengiriman Juli 2019 di New York Mercantile Exchange turun 0,39% atau 0,01 poin ke posisi US$2,29 per MMBtu.
Dika Irawan
Dika Irawan - Bisnis.com 25 Juni 2019  |  17:30 WIB

Bisnis.com, JAKARTA – Harga gas alam global turun pada perdagangan Selasa (25/6/2019), seiring dengan melemahnya permintaan komoditas tersebut.

Berdasarkan data Bloomberg, hingga pukul 16.27 WIB, harga gas alam kontrak pengiriman Juli 2019 di New York Mercantile Exchange turun 0,39% atau 0,01 poin ke posisi US$2,29 per MMBtu.

Dilansir Reuters, Selasa (25/6/2019), hambatan ekonomi sedang membatasi permintaan gas alam cair (liqueified natural gas/LNG) di Asia Timur, rumah bagi importir bagi importir bahan bakar terbesar di dunia. Bahkan, saat pasokan LNG global diperkirakan naik 14% tahun ini.

Menurut perhitungan Reuters berdasarkan data pengiriman Refinitiv, pertumbuhan volume impor bulanan LNG ke Asia Timur Laut selama paruh pertama 2019 akan menurun untuk pertama kalinya sejak 2015. Wilayah itu mencakup Jepang, China, dan Korea Selatan, tiga importir LNG terbesar dunia. Selain itu ada pula Taiwan.

Data Refinitiv juga memperlihatkan, impor LNG ke wilayah tersebut pada Juni akan turun dibandingkan dengan bulan sebelumnya untuk pertama kali. Impor biasanya meningkat pada Juni, karena permintaan gas meningkat untuk menghasilkan daya pendingin udara, selama musim panas di belahan bumi utara.

Menurut konsultan Wood Mackenzie, perlambatan ini terjadi karena volume tambahan LNG dari Rusia, Amerika Serikat dan Australia. Hal ini diperkirakan akan meningkatkan pasokan LNG keseluruhan menjadi 365 juta ton pada akhir tahun ini, dari sekitar 320 juta ton saat ini.

Sementara pendorong utama perlambatan adalah China. Impor LNG Negeri Panda diprediksi akan turun 9% dari Mei karena peralihan batubara ke gas negara tersebut yang moderat, di tengah perlambatan ekonomi.

Analis Wood Mackenzie Nicholas Browne mengatakan bahwa sisi lain permintaan jangka panjang China masih ditetapkan tumbuh, meski nilainya akan lebih lambat dibandingkan dengan 2017 dan 2018. "[Penyebabnya] pertumbuhan industri yang tidak pasti, kendala kapasitas regasifikasi dan berkurangnya laju peralihan batu bara ke gas," tambahnya.

Analis James Taverner dari konsultan IHS Markit mengatakan, permintaan LNG Asia tahun ini sejauh ini telah berkurang karena berbagai faktor. Termasuk cuaca ringan, tingkat penyimpanan yang tinggi, dan penekanan kebijakan yang lebih rendah pada pengalihan batu bara ke gas di China.

Di Korea Selatan, dimulainya tiga pembangkit listrik tenaga nuklir baru diperkirakan juga bakal membatasi impor LNG.

Giles Farrer, direktur penelitian LNG global di Wood Mackenzie mengatakan, permintaan LNG Jepang diperkirakan akan relatif datar pada 2019, meskipun mungkin ada beberapa kenaikan pada kuartal ketiga ketika beberapa pembangkit nuklir menjalani perawatan. Secara keseluruhan, diperkirakan permintaan LNG di Jepang, Korea Selatan, dan Taiwan pada tahun depan menjadi 9 juta ton di bawah level 2018.

Tim riset global Bank of America Merrill Lynch minggu lalu menyatakan, berlimpahnya gas global diperkirakan akan bertahan sampai setidaknya tahun depan. "Perang perdagangan mengambil korban pada proyeksi pertumbuhan global, yang menimbulkan risiko penurunan permintaan dan harga gas global."

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
komoditas, gas alam

Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top