Ringkasan Perdagangan 24 Juni: Rupiah Tangguh, Harga Emas Kinclong

Nilai tukar rupiah mampu menyabet kembali momentum penguatannya terhadap dolar AS, meskipun pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berlanjut.
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 25 Juni 2019  |  07:10 WIB

Bisnis.com, JAKARTA – Nilai tukar rupiah mampu menyabet kembali momentum penguatannya terhadap dolar AS, meskipun pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berlanjut.

Sementara itu, harga emas semakin bersinar di tengah sikap dovish bank-bank sentral utama dan meningkatnya risiko geopolitik.

Berikut adalah ringkasan perdagangan di pasar saham, mata uang, dan komoditas yang dirangkum Bisnis.com hari ini, Senin (24/6/2019):

IHSG Turun Lagi, Rupiah Kembali Bertenaga

Sebelum kembali berakhir melemah, indeks sempat bergerak fluktuatif antara zona positif dan negatif setelah dibuka turun 0,12 persen atau 7,51 poin di level 6.307,93 pagi tadi.

Sebanyak tujuh dari sembilan sektor berakhir di wilayah negatif, dipimpin industri dasar (-1,04 persen) dan aneka industri (-0,88 persen). Adapun sektor pertanian dan tambang masing-masing naik 2,21 persen dan 0,14 persen.

Dari 636 saham yang diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia (BEI) hari ini, sebanyak 184 saham menguat, 212 saham melemah, dan 240 saham stagnan.

Rilis Neraca Dagang Bikin Rupiah Lanjutkan Penguatan Selama 5 Hari Berturut-turut

Rupiah berhasil melanjutkan penguatannya selama 5 hari berturut-turut pada perdagangan hari ini, pascarilis data neraca perdagangan Indonesia periode Mei 2019.

Direktur Utama PT Garuda Berjangka Ibrahim mengatakan bahwa surplusnya neraca perdagangan Indonesia periode Mei telah menjadi katalis positif bagi pergerakan rupiah.

"Akibat sentimen tersebut, pada perdagangan Selasa (25/6/2019) rupiah berpotensi ditransaksikan cenderung menguat di level Rp14.127 per dolar AS hingga Rp14.190 per dolar AS," ujar Ibrahim seperti dikutip dari keterangan resminya.

Investor Asing Net Sell Rp101,75 Miliar

Investor asing membukukan aksi jual saham pada perdagangan hari ini, saat IHSG memperpanjang pelemahannya.

Investor asing membukukan aksi jual bersih atau net sell senilai sekitar Rp101,75 miliar pada perdagangan hari ini, setelah mampu membukukan net buy beberapa hari beruntun sebelumnya.

Aksi beli oleh investor asing tercatat sekitar 720,63 juta lembar saham dengan nilai Rp1,47 triliun. Adapun aksi jual oleh investor asing tercatat 1,25 miliar lembar saham senilai sekitar Rp2,57 triliun.

Investor Cermati Situasi Timur Tengah, Bursa Asia Naik Tipis

Bursa saham di sebagian besar kawasan Asia membukukan kenaikan yang moderat saat harga minyak terus naik setelah pemerintah AS mengutarakan rencana melancarkan sanksi-sanksi baru pada Iran.

Selain situasi di Timur Tengah, para investor mencermati sikap dovish dari sejumlah bank sentral utama dan ketegangan perdagangan yang masih berlangsung antara AS dan China.

Pergerakan Harga Emas

Harga emas Comex untuk kontrak Agustus 2019 terpantau lanjut menguat 11,10 poin atau 0,79 persen ke level US$1.411,20 per troy ounce pukul 17.59 WIB. Sepanjang perdagangan hari ini, harga emas bergerak di level 1.403,60-1.414,80.

Harga emas memperpanjang kenaikannya di atas level US$1.400 setelah Federal Reserve dan bank sentral utama lainnya mengisyaratkan pandangan yang lebih dovish tentang kebijakan moneternya.

Hal ini, dikombinasikan dengan sanksi-sanksi AS yang direncanakan terhadap Iran, serta pertemuan Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping akhir pekan ini menciptakan serangkaian faktor bullish untuk logam mulia tersebut.

Di dialam negeri, harga emas batangan Antam berdasarkan daftar harga emas untuk Butik LM Pulogadung Jakarta pun naik Rp3.500 menjadi Rp702.500 per gram. Harga pembelian kembali atau buyback emas Antam pun naik Rp3.000 menjadi Rp631.000 per gram.

Harga Karet Turun Dihantui Spekulasi Lonjakan Suplai

Harga karet di sejumlah bursa berjangka di Asia melemah pada perdagangan hari ini, di tengah spekulasi bahwa harga bahan karet yang tinggi dapat mendorong produsen untuk meningkatkan output.

Menurut analisis Bloomberg Intelligence, lonjakan pasokan karet alam selama dekade berikutnya akan terus membanjiri permintaan yang sebagian besar didorong oleh meningkatnya jumlah kendaraan listrik.

Turut membebani harga karet, jumlah stok karet yang dipantau oleh Shanghai Futures Exchange naik menjadi 426.905 ton pekan lalu, peningkatan pekan keempat berturut-turut.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
IHSG, Gonjang Ganjing Rupiah, harga emas comex

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top