Minyak Mendidih, Harga Batu Bara Tetap Lesu

Harga batu bara di bursa Newcastle terus melemah pada perdagangan Selasa (18/6/2019).
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 19 Juni 2019  |  08:09 WIB
Minyak Mendidih, Harga Batu Bara Tetap Lesu
Pekerja berjalan di dekat timbunan batu bara, di Berau, Kaltim. - REUTERS/Yusuf Ahmad

Bisnis.com, JAKARTA – Harga batu bara di bursa Newcastle terus melemah pada perdagangan Selasa (18/6/2019).

Berdasarkan data Bloomberg, harga batu bara di bursa ICE Newcastle untuk kontrak Agustus 2019 berakhir melorot 1,61 persen atau 1,15 poin di posisi US$70,50 per metrik ton, setelah ditutup melemah 1,38 persen atau 1 poin di level 71,65 pada perdagangan Senin (17/6).

Sementara itu, harga batu bara Newcastle untuk kontrak teraktif Oktober 2019 berakhir melemah 1,34 persen atau 1 poin di level 73,75 pada perdagangan Selasa (18/6), pelemahan hari ketiga berturut-turut.

Di bursa ICE Rotterdam, harga batu bara untuk kontrak teraktif Januari 2020 turun 0,83 persen atau 0,50 poin dan berakhir di level 59,50.

Sebaliknya, harga batu bara thermal untuk pengiriman September 2019 di Zhengzhou Commodity Exchange, mampu lanjut naik 0,64 persen atau 3,8 poin dan ditutup di level 594,4 yuan per metrik ton setelah sempat tergelincir ke zona merah.

“Jumlah persediaan berada pada level yang relatif tinggi untuk end-user dan di pelabuhan, sehingga menekan rebound harga sampai batas tertentu,” terang Everbright Futures dalam risetnya, seperti dikutip dari Bloomberg.

Jumlah stok batu bara di enam pembangkit listrik utama China mencapai 17,6 juta ton pada 7 Juni atau 41 persen lebih tinggi dari tahun lalu, menurut data China Coal Resource.

Di sisi lain, harga minyak mentah Amerika Serikat (AS) mencatat kenaikan terbesar dalam lima bulan terakhir pada perdagangan Selasa.

Minyak Brent untuk kontrak Agustus 2019 ditutup menanjak 1,97 persen atau 1,20 poin di level US$62,14 per barel di ICE Futures Europe Exchange London.

Adapun minyak WTI untuk pengiriman Juli 2019 berakhir melonjak sekitar 4 persen atau US$1,97 menjadi US$53,90 per barel di New York Mercantile Exchange, kenaikan satu hari terbesar sejak 9 Januari.

Kenaikan terjadi setelah OPEC dan sekutunya menyepakati pertemuan untuk memperpanjang pengurangan pasokan, sementara Bank Sentral Eropa meningkatkan harapan stimulus baru untuk meningkatkan permintaan.

Dilansir dari Bloomberg, OPEC telah mengusulkan pertemuan pada bulan Juli dengan Rusia dan mitra lainnya setelah berminggu-minggu ketidakpastian atas rencana mereka.

Sementara itu, Presiden ECB Mario Draghi mengatakan di sebuah forum di Portugal bahwa stimulus tambahan akan diperlukan jika prospek ekonomi tidak membaik.

Di AS, pertemuan oleh Federal Reserve AS pada hari Rabu dapat lebih meningkatkan prospek pasar jika mengikuti petunjuk kebijakan moneter Eropa.

"Pengumuman The Fed setelah pertemuan dua hari dapat menetapkan kondisi minyak untuk sepanjang sisa bulan ini," kata Phil Flynn, analis pasar senior di Price Futures Group, seperti dikutip Bloomberg. "Jika mereka bersikap sangat dovish, minyak akan reli tajam.”

Minyak WTI kemudian menguat 2,19 poin ke $ 54,12 pada pukul 16.40 waktu setempat pascarilis laporan mingguan American Petroleum Institute (API).

API mencatat persediaan minyak mentah domestik turun 812.000 barel pekan lalu. Ini akan menjadi penurunan pertama dalam tiga pekan, jika dikonfirmasi oleh data resmi pemerintah pada Rabu (19/6).

Harga minyak mendapat dorongan lebih lanjut setelah AS dan China mengatakan kedua pemimpin dua ekonomi terbesar dunia ini akan bertemu di Jepang dalam KTT G20 pekan depan untuk memulai kembali perundingan perdagangan setelah kebuntuan selama sebulan.

Pergerakan harga batu bara kontrak Agustus 2019 di bursa Newcastle

Tanggal                                    

US$/MT

18 Juni

70,50

(-1,61 persen)

17 Juni

71,65

(-1,38 persen)

14 Juni

72,65

(-1,56 persen)

Sumber: Bloomberg

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
harga batu bara

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top