Produksi Minyak Serpih AS Diproyeksi Naik, Harga Minyak Melemah

Produksi minyak Amerika Serikat dari tujuh formasi shale (minyak serpih) utama diperkirakan bakal naik sekitar 70.000 barel per hari.
Dika Irawan
Dika Irawan - Bisnis.com 18 Juni 2019  |  13:08 WIB

Bisnis.com, JAKARTA – Produksi minyak Amerika Serikat dari tujuh formasi shale (minyak serpih) utama diperkirakan bakal naik sekitar 70.000 barel per hari.

Hal tersebut terungkap dalam laporan produktivitas pengeboran bulanan US Energy Information Administration (Administrasi Informasi Energi AS) yang dirilis Senin (17/6/2019) waktu setempat.

Dikutip dari Reuters, Selasa (18/6/2019),  dalam laporan itu tercatat, perubahan terbesar dalam produksi diproyeksikan berada di Cekungan Permian Texas dan New Mexico. Output di dua tempat itu diperkirakan naik 55.000 barel per hari ke puncak baru sebesar 4,23 juta barel per hari pada Juli.

Sementara itu, produksi di North Dakota dan Bakken Montana juga diperkirakan meningkat 11.000 barel per hari menuju rekor 1,44 juta barel per hari. Produksi dari cekungan Niobrara diperkirakan naik 10.000 barel per hari ke rekor tertinggi hampir 730.000 barel per hari.

Revolusi serpih dan peningkatan produksi dari lembah Permian dan Bakken, sejauh ini telah menjadikan AS sebagai produsen minyak mentah terbesar di dunia, di atas Arab Saudi dan Rusia.

Namun, EIA telah merivisi lebih rendah perkiraan total pertumbuhan minyak mentah AS. Lembaga itu pada pekan lalu menyatakan, output akan naik 1,36 juta (bph) menjadi 12,32 juta bph pada tahun ini. Angka itu 140.000 bph lebih rendah dari  perkiraan sebelumnya.

Jumlah itu juga akan berada di puncak tertinggi sepanjang masa saat ini sebesar 10,96 juta bph yang dicapai pada 2018.

Terkait hitungan rig atau unit pengeboran minyak, indikator awal output minyak, telah turun selama 6 bulan terakhir karena perusahaan eksplorasi dan produksi independen memangkas pengeluran untuk pengeboran. Sebab, mereka lebih fokus pada pendapatan dibandingkan dengan produksi.

Lebih dari setengah total rig minyak AS berada di Cekungan Permian. Menurut data dari perusahaan jasa energi General Hugh Baker Electric, unit rig aktif menurun dalam 5 minggu lalu menjadi 441, terendah sejak Maret 2018,

EIA mengatakan, produsen minyak telah mengebor 1.318 sumur minyak dan gas setidaknya sejak April 2018. Mereka dilaporkan telah menyelesaikan pengeboran di 1.395 sumur minyak dan gas di cekungan serpih terbesar pada Mei, meninggalkan total sumur yang dibor tetapi tidak tuntas turun sebanyak 77. Hal itu adalah penurunan terbesar dalam sumur bor tapi tidak selesai sejak Maret 2018 ketika turun 107.

Laporan EIA tersebut rupanya menjadi kabar negatif bagi harga minyak dunia. Berdasarkan data Bloomberg, hingga pukul 10:41 WIB, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) melemah 0,10% atau 0,05 poin ke level US$51,88 per barel, sedangkan harga minyak Brent melemah 0,07% atau 0,04 poin ke level US$60,90 per barel.

Secara terpisah, EIA juga melaporkan, output gas alam AS diproyeksikan meningkat ke rekor 81,4 miliar kaki kubik per hari (bcfd) pada Juli.

Jumlah itu akan naik 0,8 bcfd dari perkiraan Juni dan menandai rekor kenaikan bulanan berturut-turut ke-18. Setahun yang lalu pada Juli, output-nya sebesar 69,5 bcfd. Proyeksi output gas EIA akan meningkat di sebagian besar cekungan serpihan besar pada Juli, kecuali Anadarko di Oklahoma dan Texas dan Eagle Ford di Texas.

Output di wilayah Appalachia di Pennsylvania, Ohio dan Virginia Barat, akan naik 0,3 bcfd ke rekor 32,4 bcfd pada Juli. Produksi Appalachia adalah 28,0 bcfd pada Juli tahun lalu.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Harga Minyak, produksi minyak, harga minyak dunia, harga minyak as

Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top
Tutup