Saham Pendatang Baru Belum Kompetitif

Saham-saham pendatang baru sepanjang 2019 masih belum dapat kompetitif di pasar modal Indonesia.
Muhammad Ridwan
Muhammad Ridwan - Bisnis.com 11 Juni 2019  |  01:43 WIB
Saham Pendatang Baru Belum Kompetitif
Karyawan melintas di dekat papan elektronik yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (27/5/2019). - Bisnis/Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA — Saham-saham pendatang baru sepanjang 2019 masih belum dapat kompetitif di pasar modal Indonesia.

Sepanjang 2019, sebanyak 12 emiten menjadi pendatang baru di Bursa Efek Indonesia untuk menggalang dana melalui pasar modal.

Berdasarkan data yang dihimpun Bisnis, dari 12 emiten pendatang baru yang masuk ke pasar modal, hanya 5 saham yang mengalami tren penguatan. Sisanya, 7 emiten memberikan tren pelemahan.

Saham PT Citra Putra Reality Tbk. memimpin penguatan 84,35% sepanjang tahun berjalan sejak dicatatkan di papan Bursa Efek Indonesia. Sementara itu, PT Armada Berjaya Trans Tbk. memimpin pelemahan saham emiten baru dengan 75,74%.

Wawan Hendrayana, Head of Investment Research Infovesta Utama mengatakan bahwa penguatan pada saham emiten berkode saham CLAY itu disebabkan masih tingginya kepercayaan investor dengan proyek yang dikerjakan.

“Kemungkinan investor memandang proyek grup OSO [Oesman Sapta Odang] di Pontianak akan menghasilkan keuntungan yang baik untuk CLAY,” ujarnya kepada Bisnis, Senin (10/6/2019).

Sementara itu, pelemahan pada saham JAYA, kata Wawan, lebih disebabkan oleh kinerja emiten yang masih belum positif.

Dalam laporan keuangan yang dirilis, JAYA mengantongi rugi bersih senilai Rp1,91 miliar, membalikan catatan pada tahun sebelumnya yang mengantongi laba bersih Rp755,62 juta.

“JAYA merugi per laporan keuangan Maret 2019, wajar kalau harganya jatuh,” jelasnya.

Untuk saham pendatang barunya yang mengalami pelemahan, dia mengatakan bahwa hal tersebut disebabkan lebih kepada kondisi pasar yang tertekan sejak awal tahun.

Selain itu, sebagian besar saham baru tersebut sebagian besar merupakan dari sektor properti.

“Dari penelitian yang pernah saya amati, tren saham IPO [initial public offering] bila hari pertama positif bisa di hold hingga satu bulan ke depan. Namun bila hari pertama negatif cendrung akan turun terus harganya,” ungkapnya.

Namun, dia menuturkan bahwa masih terdapat waktu 6 bulan ke depan untuk memperbaiki kinerja sahamnya. Kinerja indeks harga saham gabungan (IHSG) menunjukan tren yang semakin membaik.

Selain itu, setelah penetapan presiden baru, investor diprediksi dapat kembali fokus ke fundamental masing-masing emiten.

“Masih ada potensi saham-saham IPO untuk AR kanan,” pungkasnya.

Di lain pihak, Analis Binaartha Sekuritas Muhammad Nafan Aji menjelaskan bahwa banyaknya saham-saham baru yang belum terapresiasi lebih disebabkan oleh aksi investor yang masih menunggu sentimen positif.

Adapun faktor yang menyebabkan hal tersebut adalah bisa dari kinerja fundamental emiten tersebut, maupun kondisi market global maupun domestik yang mempengaruhi sektor-sektor terkait.

“Selain itu tergantung perilisan kinerja laporan keuangan kuartal II/2019 dan seterusnya, maka hal ini akan mempengaruhi pergerakan harga sahamnya,” ujarnya kepada Bisnis, Senin (10/6/2019).

Pengamat pasar modal PT Samuel Sekuritas Indonesia Suria Dharma menjelaskan bahwa kebanyakan dari emiten yang menggelar IPO kemarin memili kapitalisasi pasar yang tidak begitu besar. Pada umumnya, perederannya di investor retail cenderung kecil.

“Sehingga saham yang beredar terbatas, itu salah satu yang menyebabkan harga sahamnya bisa kena auto reject,” jelasnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
saham

Editor : Mia Chitra Dinisari
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top