Permintaan Cokelat di Asia Melebihi Produksi Petani

Indonesia pun berencana untuk meningkatkan prouduksi biji kakao menjadi 600.000 ton pada 2024 untuk memenuhi permintaan lokal dan ekspor.
Finna U. Ulfah
Finna U. Ulfah - Bisnis.com 29 Mei 2019  |  05:09 WIB
Permintaan Cokelat di Asia Melebihi Produksi Petani
Pekerja memeriksa buah kakao di Sunggal, Deli Serdang, Sumut, Selasa (8/1). - Bisnis.com

Bisnis.com, JAKARTA – Permintaan coklat yang terus tumbuh di Asia telah melampaui kemampuan petani lokal untuk memasok biji kakao sehingga mendorong meningkatnya pengiriman dari Afrika dan AS.

Seperti dilansir dari Bloomberg, Indonesia, sebagai produsen dan pengolah biji kakao terbesar di Asia, telah mengalami penurunan produksi biji kakao dalam satu dekade terakhir yang disebabkan oleh beralihnya petani biji kakao ke tanaman lain.

Hal tersebut dikarenakan petani tengah memerangi penyakit tanaman yang semakin menekan keuntungannya sehingga beralih untuk bertani dengan tanaman yang lebih menguntungkan.

Akibatnya, Indonesia telah berubah dari salah satu eksportir  biji kakao terbesar menjadi negara importir seiring dengan kapasitas pengolahan biji kakao yang meningkat.

Pembelian biji kakao Indonesia dari luar negeri telah meningkat lebih dari dua kali lipat dalam periode 5 tahun. Pada 2018, produsen terbesar biji kakao di Asia tersebut telah mengimpor sekitar 240.000 metrik ton biji kakao, menjadi rekor terbaru.

Bahkan, tahun ini impor biji kakao Indonesia diprediksi terus melanjutkan peningkatan.

Indonesia pun berencana untuk meningkatkan prouduksi biji kakao menjadi 600.000 ton pada 2024 untuk memenuhi permintaan lokal dan ekspor.

“Mudah-mudahan, tidak akan ada lagi penurunan dalam output karena Kementerian Pertanian mendanai program untuk membantu petani merevitalisasi tanaman dengan pupuk khusus dan benih unggul," ujar Jasman, pendiri perusahaan pengolah biji kakao PT Bumitangerang Mesindotama atau BT Cocoa, seperti dikutip dari Bloomberg, Selasa (28/5/2019).

Jasman memproyeksi produksi biji kakao tetap berada di level 270.000 pada tahun ini dengan grinding biji kakao di level 400.000 ton.

Di sisi lain, hal yang sama pun pernah dialami Malaysia pada 20 tahun lalu ketika petani biji kakao banyak yang beralih ke minyak kelapa sawit sehingga produksi berkurang menjadi kurang dari 1.000 ton dari sekitar 100.000 ton.

Penurunan tajam telah mendorong pengolah biji kakao untuk berburu bahan baku di tempat lain, termasuk perusahaan pengolah terbesar di dunia Guan Chong Bhd.

Saat itu, perusahaan tersebut berencana untuk memindahkan tanaman lebih dekat ke petani di Afrika atau AS.

Mengutip data Dewan Kakao Malaysia, pada tahun lalu Negeri Jiran tersebut mengalami peningkatan impor sebanyak 10% menjadi 345.000 ton.

Sementara itu, para pemain global telah berinvestasi di Indonesia untuk memposisikan perusahaannya untuk memenuhi permintaan di Asia yang meningkat. Belum lama ini, Olam International Ltd telah menghabiskan US$90 juta awal tahun ini untuk membeli BT Cocoa.

Adapun pada 2020, Asia diharapkan menjadi pasar terbesar di dunia untuk bubuk kakao, yang digunakan dalam produk-produk termasuk kue, minuman cokelat, dan es krim.

Berdasarkan data Asosiasi Kakao Asia, sepanjang 2018 pengolahan biji kakao di Asia telah naik lebih dari 25% dalam 4 tahun terakhir menjadi sekitar 780.000 ton.

Selain itu, penggilingan biji kakao Asia naik hampir 10% pada kuartal pertama tahun ini seiring dengan meningkatnya konsumsi permen cokelat, roti, dan minuman cokelat.

“Pasar Asia untuk permen cokelat telah tumbuh dengan laju tahunan sebesar 5% dalam periode 5 tahun terakhir, yang dipicu oleh pertumbuhan ekonomi regional dan populasi,” ujar Anthony Chien, analis riset Euromonitor International, seperti dikutip dari Bloomberg, Selasa (28/5/2019).

Sementara itu, pada perdagangan berjangka Jumat (24/5/2019), harga kakao kontrak Juli 2019 di bursa ICE ditutup menguat 1,69% menjadi US$2.467 per metrik ton terus melanjutkan reli penguatannya.

Reli tersebut didorong oleh proyeksi produksi kakao di Ghana, salah satu produsen biji kakao, yang juga mengalami penurunan.

Sebelumnya, produksi kakao di Ghana diperkirakan mencapai 900.000 ton pada tahun ini. Namun, direvisi menjadi sekitar 850.000 ton karena pertimbangan penyakit tanaman dan cuaca.

Direktur Eksekutif Organisasi Kakao Internasional (International Cocoa Organization (ICCO) Michel Arrion mengatakan, penurunan produksi kakao Ghana belum mengubah proyeksi produksi kakao global sebesar 4,8 juta ton untuk periode 2018/2019.

“Kami tidak memiliki semua data [kakao], tetapi kami berpikir bahwa penurunan tertentu di Ghana dapat dikompensasi dengan produksi yang lebih tinggi di tempat lain, seperti Pantai Gading," ujar Arrion.

Adapun, produksi kakao di Pantai Gading sebagai negera produsen biji kakao terbesar di dunia, diperkirakan akan mencapai 2,2 juta ton musim ini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kakao

Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top