Emiten BUMN Ramai-ramai Tebar Dividen Sebelum Lebaran

Jadi, total pembayaran dividen tunai dari seluruh 14 emiten BUMN dan anak usaha sepanjang Mei ini mencapai Rp7,58 triliun. Saat ini, terdapat 33 emiten BUMN dan anak usaha yang melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI).
M. Nurhadi Pratomo
M. Nurhadi Pratomo - Bisnis.com 25 Mei 2019  |  10:22 WIB
Emiten BUMN Ramai-ramai Tebar Dividen Sebelum Lebaran
Karyawati mengamati pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Dealing Room Bank Permata, Jakarta, Rabu (4/4/2018). - Bisnis/Felix Jody Kinarwan

Bisnis.com, JAKARTA — Menjelang Lebaran, para pemegang saham 14 Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan anak usaha menikmati dividen hasil kinerja keuangan 2018 sebesar Rp7,58 triliun. Pembayaran akan dan telah dilakukan sepanjang bulan ini.

Dividend payout ratio (DPR) yang ditetapkan rata-rata di atas 30 persen dari laba bersih 2018.

Berdasarkan data yang dihimpun Bisnis, beberapa perusahaan yang DPR di atas 30 persen adalah PT Bukit Asam Tbk., sebesar 75 persen, PT Waskita Beton Precast Tbk., sebesar 50 persen, dan PT Aneka Tambang Tbk., serta PT Timah Tbk., masing-masing sebesar 35 persen.

Adapun, PT PP Properti Tbk., PT PP Presisi Tbk., dan PT Elnusa Tbk. telah melakukan pembayaran dividen tunai pada 10 Mei. Total dividen tunai yang ditebar ketiganya senilai Rp261,26 miliar.

Pada akhir pekan ini, Jumat (24/5), PT Asuransi Tugu Pratama Indonesia Tbk., PT Timah Tbk., PT Aneka Tambang Tbk., dan PT Waskita Beton Precast Tbk., juga dijadwalkan melakukan pembayaran dividen tunai. Total dividen tunai yang dibagikan oleh Badan Usaha Milik Negara (BUMN) itu senilai Rp1,11 triliun.

Kucuran tunjangan hari raya (THR) alias dividen tunai dari emiten dari perusahan pelat merah itu masih belum berakhir. Hingga akhir Ramadan ini, masih ada tujuh perseroan yang berencana melakukan pembayaran dividen tunai kinerja 2018.

PT Kimia Farma (Persero) Tbk. misalnya, akan membagikan dividen tunai untuk kinerja keuangan 2018 sebesar Rp83,19 miliar pada 28 Mei mendatang. Pada hari yang sama, PT Wijaya Karya (Persero) Tbk. juga membagikan dividen tunai dengan total Rp346,05 miliar dari laba bersih 2018.

Tiga emiten lain yang dijadwalkan melakukan pembayaran dividen tunai pada 28 Mei 2019 adalah PT Jasa Marga (Persero) Tbk. dengan total Rp330,39 miliar, PT Perusahaan Gas Negara Tbk. dengan total Rp1,38 triliun, dan PT Bank BRIsyariah Tbk. Rp10,65 miliar.

Adapun, PT PP (Persero) Tbk. dengan total dividen tunai Rp300 miliar dan PT Bukit Asam Tbk. dengan total dividen tunai Rp3,76 triliun, dijadwalkan melakukan pembayaran pada 29 Mei.

Jadi, total pembayaran dividen tunai dari seluruh 14 emiten BUMN dan anak usaha sepanjang Mei ini mencapai Rp7,58 triliun. Saat ini, terdapat 33 emiten BUMN dan anak usaha yang melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI).

TREN DIVIDEN

Frankie Wijoyo Prasetio, Head of Equity Trading MNC Sekuritas Medan mengatakan, tren dividen yang dibagikan oleh BUMN dan anak usaha untuk kinerja 2018 meningkat. Menurutnya, dividen yield dari 13 emiten yang menjadi anggota indeks IDX BUMN 20, meningkat dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun lalu.

“Dapat diartikan dividen 2019 lebih menarik dibandingkan dengan tahun lalu,” ujarnya kepada Bisnis, Jumat (24/5).

Dia memproyeksikan ke depannya, emiten BUMN dan anak usaha tetap loyal dalam membagi keuntungan. Hal itu karena dividen merupakan pendapatan negara non-pajak yang berkontribusi untuk pembangunan.

Frankie memproyeksikan, sektor perbankan BUMN akan menyumbangkan tambahan dividen yang cukup tebal pada tahun ini.

Adapun, Kepala Riset Koneksi Kapital Alfred Nainggolan mengungkapkan berdasarkan data historis, emiten BUMN masih loyal membagi dividen mengingat peran perseroan sebagai sumber pendapatan negara.

“Kami tetap optimistis jumlah besaran dividen yang dibagikan akan meningkat seiring dengan ekspektasi laba bersih emiten BUMN pada tahun ini yang masih tumbuh,” ujarnya.

Analis Artha Sekuritas Frederik Rasali mengatakan, tingkat loyalitas BUMN membagi dividen bergantung dari prospektus saat melakukan penawaran umum perdana saham (IPO). Kendati demikian, pihaknya melihat perseroan pelat merah wajib membagikan dividen apabila mencetak laba.

Menurutnya, pertumbuhan perseroan akan bergantung pada industri masing-masing. Salah satu sektor yang konsisten bertumbuh adalah perbankan. Sementara itu, sektor yang terkait komoditas seperti pertambangan lebih cenderung fluktuatif. “Selanjutnya, untuk BUMN karya akan bergantung pada proyek pemerintah dan pembangunan di dalam Indonesia.”

Direktur Keuangan dan Pengelolaan Kapital Manusia PP Agus Purbianto mengungkapkan aspek kesehatan perseroan, rasio kecukupan modal, dan kebutuhan pengembangan ke depan, serta aspirasi pemegang saham menjadi pertimbangan utama dalam menentukan besaran dividen.

“Besaran rasio 20 persen yang disetujui melalui rapat umum pemegang saham [RUPS] adalah angka yang moderat, tidak terlalu besar maupun terlalu kecil,” jelasnya.

Sekretaris Perusahaan Bukit Asam Suherman me­­­ngatakan, rasio pembayaran dividen diputuskan oleh RUPS. “Ke depan, kami tetap mempertimbangkan kebutuhan cash untuk pendanaan sejumlah proyek pengembangan, khususnya peng­­­hiliran batu bara,” katanya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
bumn, jsmr

Sumber : Bisnis Indonesia

Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top