Perang Dagang Memanas, Mirae Asset Sekuritas Pangkas Target IHSG

Mirae Asset Sekuritas Indonesia memangkas target IHSG hingga akhir tahun menjadi 6.510. Revisi turun itu dilakukan karena volatilitas di pasar saham semakin tinggi seiring dengan memanas kembali tensi perang dagang antara Amerika Serikat dan China pada awal Mei.
Dwi Nicken Tari
Dwi Nicken Tari - Bisnis.com 23 Mei 2019  |  14:12 WIB
Perang Dagang Memanas, Mirae Asset Sekuritas Pangkas Target IHSG
Karyawan melintas di depan layar pergerakan saham di Plaza Mandiri, Jakarta, Senin (29/4/2019)./ANTARA FOTO - Rivan Awal Lingga

Bisnis.com, JAKARTA -- Mirae Asset Sekuritas Indonesia memangkas target IHSG hingga akhir tahun menjadi 6.510. Revisi turun itu dilakukan karena volatilitas di pasar saham semakin tinggi seiring dengan memanas kembali tensi perang dagang antara Amerika Serikat dan China pada awal Mei.

Kepala Riset Mirae Asset Sekuritas Hariyanto Wijaya menyampaikan, perang dagang sebenarnya memiliki dampak negatif langsung yang terbatas terhadap perekonomian Indonesia. Pasalnya, Indonesia tidak banyak mengekspor barang ke kedua negara ekonomi terbesar di dunia tersebut. Per 2018, tercatat ekspor Indonesia ke AS dan China masing-masing sebesar 2,0% dan 3,3% terhadap PDB. Bahkan, Indonesia dinilai bisa mengambil untung di tengah-tengah eskalai tensi dagang AS--China ini dengan menjadi negara substitusi.

"[Meskipun demikian], kami menggarisbawahi bahwa perang dagang memicu aliran modal keluar asing dari pasar saham Indonesia sejak awal Mei, pola yang juga terjadi di negara-negara berkembang lainnya," kata Hariyanto melalui riset, Kamis (23/5/2019).

Adapun, secara ytd, investor asing masih mencatatkan beli bersih senilai US$3,951 juta di luar aksi crossing saham oleh MUFG Bank terhadap BDMN dan BBNP yang senilai US$3,652 juta. Secara total, investor asing mencatatkan beli bersih senilai US$299 juta ytd. 

"Kami memperkirakan volatilitas IHSG masih tinggi hingga Presiden Trump dan Xi bertemu di pertemuan G20 di Jepang pada Juni," imbuh Hariyanto.

Lebih lanjut, eskalasi tensi dagang pada Mei telah menyebabkan yuan China melemah, yang mana berdampak terhadap mata uang lainnya. Rupiah pun menjadi salah satu mata uang yang melemah, terdepresiasi 1,5% sejak awal Mei. Hal ini juga diperburuk oleh defisit neraca perdagangan sebesar US$2,5 miliar pada April, di bawah konsensus defisit sebesar US$0,5 miliar, yang merupakan defisit terlebar Indonesia sepanjang sejarah

Mirae Asset Sekuritas Indonesia menyarankan investor untuk mengubah posisi menjadi bertahan (defensive) dengan saham-saham pilihan utama a.l. BBCA, BMRI, GGRM, ICBP, RALS, dan MYOR.
 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
IHSG, mirae, perang dagang AS vs China

Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top