Perang Dagang Masih Membebani Rupiah

Kekhawatiran investor terhadap ekskalasi perang dagang AS dan China masih membebani pergerakan rupiah sehingga mata uang garuda kembali ditutup melemah pada perdagangan Kamis (9/5/2019).
Finna U. Ulfah | 09 Mei 2019 17:34 WIB
Karyawati Bank Mandiri menghitung mata uang dolar AS dan rupiah di Jakarta, Selasa (12/2/2019). - Bisnis/Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA - Kekhawatiran investor terhadap ekskalasi perang dagang AS dan China masih membebani pergerakan rupiah sehingga mata uang garuda kembali ditutup melemah pada perdagangan Kamis (9/5/2019).

Berdasarkan data Bloomberg, pada perdagangan Kamis (9/5/2019) rupiah ditutup terdepresiasi 0,45% atau 65 poin di level Rp14.360 per dolar AS. 

Kepala Riset dan Edukasi PT Monex Investindo Futures Ariston Tjendra mengatakan bahwa sentimen utama pelemahan rupiah masih disebabkan oleh sengketa perdagangan yang kembali memanas oleh AS dan China. 

"AS dan China saling bertukar pernyataan yang memanaskan suasana, dan negosiasi dagang masih akan berlangsung hingga Jumat. Jika negosiasi dagang berakhir dengan kesepakatan yang positif untuk kedua belah pihak baru rupiah berpotensi akan menguat kembali," papar Ariston kepada Bisnis.com, Kamis (9/5/2019).

Seperti diketahui, pemerintahan AS tetap bersikeras untuk menaikkan tarif impor China pada Jumat mendatang sebesar 25% dari semula sebesar 10%. AS mengklaim bahwa China telah keluar dari komitmennya terhadap kesepakatan perdagangan yang selama ini tengah diperbincangkan.

Namun, mayoritas investor berharap kedua negara dapat menghasilkan kesepakatan yang positif agar tidak berdampak pada perlambatan ekonomi global.

Bahkan, IMF pun telah memberikan peringatan jika perang dagang antara kedua negara ekonomi terbesar di dunia tersebut berlanjut maka akan semakin melukai pertumbuhan ekonomi global dan harga komoditas pun akan ikut jatuh berguguran.

Selain itu, Direktur Utama PT Garuda Berjangka Ibrahim mengatakan bahwa cadangan devisa Indonesia yang menurun juga menjadi katalis negatif rupiah. Bank Indonesia melaporkan, cadangan devisa April sebesar US$124,3 miliar, lebih rendah dibandingkan dengan bulan lalu sebesar US$124,5miliar.

"Karena cadangan devisa itu penting sebagai senjata yang digunakan oleh BI untuk stabilisasi nilai tukar, investor akan melihat itu," papar Ibrahim kepada Bisnis.com. 

Di sisi lain, pelemahan rupiah juga terjadi akibat musim pembagian dividen untuk para pemegang saham sehingga membutuhkan dolar AS cukup banyak. Hal tersebut wajar terjadi, lanjutnya, dan umumnya akan terjadi di akhir kuartal pertama hingga awal kuartal kedua.

Analis PT Monex Investindo Futures Dini Nurhadi Yasyi mengatakan, rupiah diprediksi masih bergerak melemah seiring dengan kekhawatiran pasar terkait dengan perseteruan AS dan China yang masih akan berlanjut.

Walaupun demikian, dia menilai rupiah kemungkinan akan mengalami konsolidasi, tetapi terbatas akibat kecenderungan aksi profit taking oleh investor seiring dengan pelemahan rupiah yang telah terjadi hampir selama dua pekan.

Dia memprediksi pada perdagangan Jumat (10/5/2019) rupiah akan diperdagangkan di level Rp14.340 per dolar AS hingga Rp14.400 per dolar AS. 

Pantau terus perkembangan Real Count KPU Pilpres 2019, di sini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Gonjang Ganjing Rupiah, perang dagang AS vs China

Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top
Tutup