Bursa Asia Lesu Jelang Tatap Muka Tim Negosiasi AS-China

Bursa saham global bergerak di kisaran level terendahnya dalam lima pekan pada perdagangan sore ini, Rabu (8/5/2019), ketika berlanjutnya tensi perdagangan Amerika Serikat (AS)-China dan kekhawatiran ekonomi global mendorong investor menjauhi aset-aset berisiko.
Renat Sofie Andriani | 08 Mei 2019 16:49 WIB
bursa asia

Bisnis.com, JAKARTA – Bursa saham global bergerak di kisaran level terendahnya dalam lima pekan pada perdagangan sore ini, Rabu (8/5/2019), ketika berlanjutnya tensi perdagangan Amerika Serikat (AS)-China dan kekhawatiran ekonomi global mendorong investor menjauhi aset-aset berisiko.

Berdasarkan data Reuters, indeks saham MSCI Asia Pacific selain Jepang, turun hampir satu persen dan menyentuh level terendahnya sejak akhir Maret.

Di sisi lain, bursa Eropa mampu mengawali perdagangan hari ini di posisi sedikit lebih tinggi, berupaya mengesampingkan suramnya sesi perdagangan di Asia dan pelemahan tajam di Wall Street AS.

Pada perdagangan Selasa (7/5), tiga indeks saham utama di Wall Street berakhir melorot hampir 2 persen, terbebani penurunan sektor teknologi dan industri yang terdampak kemungkinan gagal tercapainya kesepakatan perdagangan AS-China.

Wakil Perdana Menteri China Liu He akan mengunjungi Washington pada Kamis dan Jumat pekan ini untuk mengadakan pembicaraan perdagangan. Ini menjadi upaya terakhir untuk mencegah kenaikan tarif terhadap barang-barang asal China.

Sebelumnya, pada Minggu (5/5), Presiden Donald Trump mengumumkan rencana untuk mulai menaikkan tarif menjadi 25 persen dari 10 persen terhadap barang-barang asal China senilai US$200 miliar pada Jumat (10/5).

“Saya pikir [rencana] Trump menaikkan tarif adalah risiko utama,” ujar Christophe Barraud, kepala strategi di Market Securities.

“Jika itu terjadi kita dapat membayangkan bahwa negosiasi akan gagal, menyiratkan beberapa bulan lagi ketidakpastian. Dengan ini, obligasi dan aset safe haven lainnya seperti yen, tampaknya akan mendapat manfaat dari situasi ini dalam waktu singkat,” tambahnya.

Menambah kegelisahan pasar adalah data perdagangan China yang menunjukkan kuatnya impor pada bulan April. Namun, pada saat uang sama kinerja ekspor Negeri Tirai Bambu tak terduga menurun.

Badan bea cukai China hari ini, melaporkan ekspor turun 2,7 persen dan impor meningkat 4 persen pada bulan lalu. Angka-angka ini mengikuti data ekonomi yang kurang bagus di Eropa dan tanda-tanda peningkatan inventaris yang tajam di Amerika Serikat.

“Ekspor yang lesu menunjukkan bahwa ekonomi global kemungkinan belum mencapai titik terendah, sementara impor menandakan pemulihan permintaan domestik,” ujar Peiqian Liu, Asia strategist di Natwest Markets PLC, Singapura.

“Kericuhan dan ketidakpastian dalam perang dagang akan terus membebani perdagangan China,” tambahnya, seperti dikutip Bloomberg.

Pantau terus perkembangan Real Count KPU Pilpres 2019, di sini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Bursa Asia, perang dagang AS vs China

Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top
Tutup