Besok, Rupiah Berpotensi ke Level Rp14.200 per Dolar AS

Mata uang rupiah berpotensi melanjutkan tren pelemahan ke level Rp14.200 pada perdagangan Jumat (26/4/2019) seiring dengan keperkasaan dolar AS dan sejumlah tekanan dari faktor eksternal.
Hafiyyan | 25 April 2019 18:36 WIB
Ilustrasi - Karyawan menata uang untuk pengisian ATM, di Cash Center PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI), Jakarta, Kamis (20/12/2018). - Bisnis/Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA—Mata uang rupiah berpotensi melanjutkan tren pelemahan ke level Rp14.200 pada perdagangan Jumat (26/4/2019) seiring dengan keperkasaan dolar AS dan sejumlah tekanan dari faktor eksternal.

Pada penutupan perdagangan Kamis (25/4/2019), rupiah melemah 81 poin atau 0,57% menjadi Rp14.186 per dolar AS. Dalam waktu yang sama, indeks dolar AS bertengger di posisi 98,141.

Direktur Utama PT Garuda Berjangka Ibrahim menyampaikan, dari sisi internal Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan BI 7 Day Reverse Repo Rate sebesar 6%. Keputusan ini sejalan dengan upaya memperkuat stabilitas eksternal perekonomian sekaligus mempertahankan daya tarik pasar keuangan domestik.

Pertimbangan utama BI menahan suku bunga acuan adalah perkembangan transaksi berjalan. Namun, transaksi berjalan masih menjadi salah satu risiko besar di perekonomian Indonesia dan pengaruhnya bisa menjalar ke mana-mana, termasuk nilai tukar rupiah.

“Kalau urusannya sudah menyangkut rupiah, BI tentu tidak bisa tinggal diam. Transaksi berjalan yang sejatinya adalah fenomena sektor riil berubah menjadi fenomena moneter yang membutuhkan campur tangan bank sentral,” paparnya.

Ibrahim memprediksi, pada Jumat (26/5/2019) rupiah cenderung mengalami pelemahan. Rupiah diperkirakan bergerak di dalam rentang 14.088-14.215.

Sementar itu, dari sisi eksternal ada sejumlah faktor yang menekan rupiah. Pertama, melalui sebuah cuitan di Twitter, Presiden AS Donald Trump mengungkapkan kegeramannya kepada Uni Eropa seiring dengan anjloknya laba bersih pabrikan motor Harley Davidson pada kuartal/I 2019.

Kedua, adanya  ketidakpastian terkait dengan Brexit setelah kembalinya parlemen dari libur Paskah membawa putaran baru adanya desas-desus dari anggota parlemen yang berhaluan Konservatif  yang  ingin menggulingkan Theresa May.

“Sentimen dari Eropa terlihat mendominasi pasar keuangan,” imbuhnya.

Pantau terus perkembangan Real Count KPU Pilpres 2019, di sini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Gonjang Ganjing Rupiah

Editor : Yusuf Waluyo Jati

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top
Tutup